Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - SAN FRANCISCO. Uber mulai mengubah arah strateginya. Perusahaan ride-hailing asal Amerika Serikat ini dikabarkan menyiapkan investasi besar-besaran demi mengamankan posisi di era kendaraan otonom.
Mengutip laporan Reuters (15/4), Uber berkomitmen menggelontorkan lebih dari US$ 10 miliar untuk membeli ribuan kendaraan otonom sekaligus mengambil kepemilikan saham di perusahaan pengembang teknologi tersebut. Langkah ini menandai pergeseran dari model bisnis ringan aset khas gig economy yang selama ini diandalkan.
Manuver ini bukan tanpa alasan. Uber berupaya mengantisipasi ancaman disrupsi dari robotaksi yang berpotensi menggerus bisnis transportasi berbasis pengemudi manusia.
Dalam strategi barunya, Uber ingin memosisikan diri sebagai marketplace bagi berbagai operator robotaksi. Perusahaan telah menjalin kemitraan dengan sejumlah pemain besar industri kendaraan otonom seperti Baidu, Rivian, dan Lucid. Bahkan, Uber menargetkan layanan robotaksi dapat beroperasi di setidaknya 28 kota pada 2028.
Baca Juga: Nissan, Uber, dan Wayve Kolaborasi Kembangkan Robotaxi, Uji Coba di Tokyo Mulai 2026
Berdasarkan perhitungan Financial Times, Uber diperkirakan akan menanamkan lebih dari US$ 2,5 miliar dalam bentuk kepemilikan saham di mitra teknologi, serta mengalokasikan lebih dari US$ 7,5 miliar untuk pengadaan armada robotaksi dalam beberapa tahun ke depan. Namun, realisasi investasi tersebut bergantung pada pencapaian target implementasi yang disepakati bersama para mitra.
Langkah agresif Uber mencerminkan meningkatnya minat terhadap taksi tanpa pengemudi dalam beberapa waktu terakhir. Setelah bertahun-tahun menghadapi hambatan teknologi dan biaya tinggi, kemajuan kecerdasan buatan serta kolaborasi lintas industri mulai membuka peluang baru.
Meski demikian, strategi ini juga mengandung risiko. Perubahan dari model bisnis berbasis platform menjadi lebih padat modal berpotensi menekan margin perusahaan. Di sisi lain, ketidakpastian regulasi dan kesiapan infrastruktur di berbagai negara masih menjadi tantangan besar bagi ekspansi robotaksi secara global.
Dengan taruhan dana jumbo, Uber kini tidak sekadar menjadi perantara layanan transportasi, melainkan ikut bertaruh dalam perlombaan teknologi kendaraan otonom yang masih penuh ketidakpastian.
Baca Juga: Uber Bidik Pasar Eropa, Siap Ekspansi Bisnis Pengantaran Makanan di Tujuh Negara












