kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -7.000   -0,38%
  • USD/IDR 16.565   0,00   0,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Utang Global Memasuki Rekor Baru, Sentuh US$ 307 Triliun pada Kuartal II 2023


Rabu, 20 September 2023 / 12:45 WIB
Utang Global Memasuki Rekor Baru, Sentuh US$ 307 Triliun pada Kuartal II 2023
Karyawan menghitung tumpukan uang dolar Amerika Serikat di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (19/7). Utang Global Memasuki Rekor Baru, Sentuh US$ 307 Triliun pada Kuartal II 2023.


Reporter: Vina Destya | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  LONDON. Institute of International Finance (IIF) menyampaikan bahwa utang global mencapai rekornya sebesar US$ 307 triliun di kuartal II tahun 2023, meskipun kenaikan suku bunga membatasi kredit bank, sementara pasar-pasar seperti Amerika Serikat dan Jepang yang mendorong kenaikan ini.

Sebuah kelompok perdagangan jasa keuangan mengatakan dalam sebuah laporan yang dikutip dari Reuters, bahwa utang global dalam bentuk dollar telah meningkat sebesar US$ 10 triliun pada paruh pertama di tahun 2023, dan sebesar US$ 100 triliun selama satu dekade terakhir.

Kenaikan terbaru telah meningkatkan rasio utang global terhadap PDB untuk dua kuartal berturut-turut menjadi 336%.

Baca Juga: Investor Asing Ramai-Ramai Menyetrum Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia

Ada pun perlambatan pertumbuhan, bersamaan dengan perlambatan kenaikan harga, hal tersebut menyebabkan PDB nominal berkembang lebih lambat daripada tingkat utang dan berada di balik kenaikan rasio utang.

Direktur Riset Keberlanjutan di IIF, Emre Tiftik menyebutkan bahwa rasio utang terhadap PDB sebenarnya telah kembali naik, khususnya kenaikan ini terjadi setelah tujuh kuartal berturut-turut mengalami penurunan rasio utang.

“Serta sebagian besar mencerminkan dampak dari meredanya tekanan inflasi,” ujar Tiftik dalam konferensi pers.

IIF juga mengatakan bahwa dengan tekanan upah dan harga yang moderat meskipun tidak mencapai target mereka, tetapi mereka memperkirakan rasio utang terhadap output akan melampaui 337% di akhir tahun 2023 ini.

Baca Juga: Utang Terpangkas Indeks Terangkat

Dalam beberapa bulan terakhir, para ahli dan pembuat kebijakan telah memberikan peringatan terkait meningkatnya tingkat utang yang dapat memaksa negara, perusahaan, dan rumah tangga untuk memperketat dan membatasi pengeluaran investasi, yang pada gilirannya akan menghambat pertumbuhan dan menekan standar kehidupan.

Lebih dari 80% dari kenaikan terbaru berasal dari negara maju seperti AS, Jepang, Inggris, dan Prancis yang mencatatkan kenaikan terbesar.

Sementara itu, di antara pasar-pasar negara berkembang, kenaikan terbesar berasal dari negara-negara dengan perekonomian besar yakni China, India, dan Brasil.

Salah satu Ketua Tim Pemeringkat Amerika di Fitch Ratings yang mensponsori laporan IIF, Tod Martinez menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya dalam kurun waktu yang lama, terdapat tren yang lebih baik di antara pasar negara berkembang dibandingkan dengan pasar di negara maju.

Pasar di negara maju pasca pandemi membutuhkan lebih banyak waktu untuk kembali ke posisi fiskal sebelum krisis, dibandingkan dengan negara berkembang. “Kemudian banyak dari mereka yang terkena dampak guncangan energi (dari perang di Ukraina),” ungkap Martinez.

Laporan tersebut mendapati bahwa utang rumah tangga terhadap PDB di pasar negara berkembang masih berada di atas tingkat sebelum Covid-19, sebagian besar disebabkan oleh China, Korea, dan Thailand.

Baca Juga: DPR dan Pemerintah Sepakat Asumsi ICP dan Lifting Minyak Ditingkatkan pada RAPBN 2024

Namun, rasio yang sama di pasar negara maju telah turun ke level terendah dalam dua dekade terakhir, termasuk dalam enam bulan pertama tahun ini.

Tiftik juga menyampaikan terdapat kabar baik bahwa beban utang konsumen tampaknya tetap akan terkendali.

“Jika tekanan inflasi terus berlanjut, kesehatan neraca rumah tangga terutama di AS akan memberikan perlindungan terhadap kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut,” papar Tiftik.

Pasar tidak memperkirakan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS dalam waktu dekat, tetapi target suku bunga berada di antara 5,25% dan 5,5%. Menurut alat CME FedWatch, saat ini target tersebut diperkirakan akan tetap berlaku hingga sekitar Mei di tahun 2024 mendatang.

Baca Juga: KKR Borong 20% Saham Singtel’s Seharga US$ 807 Juta

Suku bunga AS diperkirakan akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama, yang juga dapat menekan pasar negara berkembang karena investasi yang dibutuhkan disalurkan ke negara-negara maju yang lebih tidak berisiko.

The Fed juga diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga, bahkan dapat memberikan sinyal bahwa mereka terbuka untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut.


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×