kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.515.000   27.000   1,09%
  • USD/IDR 16.761   21,00   0,13%
  • IDX 8.792   44,33   0,51%
  • KOMPAS100 1.212   6,82   0,57%
  • LQ45 854   2,31   0,27%
  • ISSI 318   3,40   1,08%
  • IDX30 438   -0,52   -0,12%
  • IDXHIDIV20 512   0,53   0,10%
  • IDX80 135   0,81   0,60%
  • IDXV30 140   0,26   0,18%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

Venezuela di Bawah Kendali AS, Masa Depan Bisnis Minyak Dipertaruhkan


Minggu, 04 Januari 2026 / 20:24 WIB
Venezuela di Bawah Kendali AS, Masa Depan Bisnis Minyak Dipertaruhkan
USA-VENEZUELA/LEGAL (REUTERS/Jonathan Ernst). Presiden Trump memerintahkan AS ambil alih pengelolaan sementara minyak Venezuela pasca penangkapan Maduro.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Amerika Serikat (AS) membuka babak baru dalam peta bisnis energi global setelah Presiden Donald Trump memerintahkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan menyatakan AS akan mengambil alih pengelolaan sementara negara penghasil minyak terbesar di dunia itu.

Trump menegaskan, pemerintah AS akan mengelola Venezuela beserta cadangan minyaknya sampai terjadi “transisi yang aman dan terukur”. 

Pernyataan ini langsung mengirim sinyal kuat ke pasar energi global, terutama terkait potensi kembalinya perusahaan-perusahaan minyak besar AS ke Venezuela setelah bertahun-tahun hengkang akibat sanksi dan krisis politik.

Trump mengatakan sejumlah raksasa migas AS siap masuk kembali untuk merevitalisasi infrastruktur minyak Venezuela yang telah rusak parah. 

Baca Juga: Masa Depan Drone DJI di AS Terancam, Desak Kongres Bertindak Cepat

Namun para analis menilai, pemulihan produksi minyak tidak akan instan dan bisa memakan waktu bertahun-tahun serta investasi besar, mengingat fasilitas produksi dan distribusi berada dalam kondisi sangat terdegradasi.

“Kami akan menjalankan negara ini sementara waktu, termasuk sektor energinya,” kata Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago. 

Ia bahkan menegaskan AS tidak keberatan menempatkan personel di lapangan demi mengamankan kepentingan tersebut.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi produksinya anjlok drastis selama satu dekade terakhir akibat salah urus, korupsi, dan sanksi internasional. Di bawah pemerintahan Maduro, ekonomi Venezuela runtuh dan statusnya sebagai raksasa energi Amerika Latin nyaris hilang dari peta.

Dari sisi korporasi, langkah AS ini membuka peluang besar bagi perusahaan energi untuk mengakses kembali ladang minyak Venezuela, sekaligus memicu kekhawatiran baru soal stabilitas hukum, risiko geopolitik, dan reaksi internasional.

Baca Juga: AS Menyita Kapal Tanker Minyak di Lepas Pantai Venezuela

Di sisi lain, pemerintah AS menegaskan Maduro akan menghadapi proses hukum. Ia ditahan di pusat penahanan di New York dan dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan federal Manhattan terkait dakwaan narkoterorisme yang telah dilayangkan sejak 2020.

Penangkapan Maduro dilakukan melalui operasi militer mendadak pada Sabtu dini hari, setelah serangan ke sejumlah instalasi militer di Caracas. Gambar Maduro dalam kondisi diborgol dan ditutup matanya saat diterbangkan ke AS mengejutkan publik Venezuela dan dunia internasional.

Langkah Washington menuai kecaman dari Rusia dan China, dua mitra utama Venezuela. China menyebut tindakan AS sebagai perilaku hegemonik, sementara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai penangkapan kepala negara asing sebagai preseden berbahaya dalam hubungan internasional.

Di dalam negeri Venezuela, para loyalis Maduro masih memegang kendali pemerintahan dan menyebut penangkapan itu sebagai “penculikan” demi menguasai minyak dan sumber daya mineral Venezuela. 

Baca Juga: Trump: AS Menyita Kapal Tanker Minyak di Lepas Pantai Venezuela

Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang mengklaim sebagai presiden sementara, menegaskan Maduro tetap pemimpin sah Venezuela.

Situasi di berbagai kota Venezuela relatif lengang. Warga memilih bertahan di rumah di tengah ketidakpastian. Aktivitas ekonomi berjalan terbatas, meski sebagian toko, kafe, dan layanan dasar tetap buka.

Di luar negeri, diaspora Venezuela justru menyambut kejatuhan Maduro dengan sukacita. Selama kepemimpinannya, sekitar satu dari lima warga Venezuela terpaksa meninggalkan negaranya akibat krisis ekonomi berkepanjangan.

USA-VENEZUELA/

Di tengah ketegangan politik dan manuver bisnis global ini, Trump menyebut bahwa kehadiran AS di Venezuela tidak akan membebani anggaran negaranya. Menurutnya, seluruh biaya akan ditutup dari pendapatan minyak Venezuela.

Baca Juga: Kekhawatiran Ekonomi AS dan China, Harga Minyak Mentah Kembali Ditutup Melemah

Sementara itu, perhatian internasional juga mulai tertuju pada kondisi kemanusiaan warga Venezuela. 

Paus Leo menyerukan agar kepentingan rakyat Venezuela menjadi prioritas utama dan hak-hak dasar tetap dihormati. Sejumlah pihak mendesak agar stabilisasi ekonomi dan bantuan kemanusiaan segera diberikan di tengah masa transisi yang penuh ketidakpastian ini. 

Selanjutnya: Industri Rokok Nilai Wacana Kemasan Polos Ancam Merek, Investasi, dan Lapangan Kerja

Menarik Dibaca: Sulit Fokus Bisa Jadi Anda Terkena Popcorn Brain




TERBARU

[X]
×