Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - HANOI. Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh menginginkan pembicaraan dengan Rusia untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir selesai bulan ini dan mendesak para pejabat pemerintah untuk mencari mitra baru setelah Jepang menarik diri dari proyek kedua.
Mengutip Reuters, Kamis (8/1/2026), Vietnam melanjutkan program tenaga nuklirnya tahun lalu setelah menghentikannya pada tahun 2016.
Berdasarkan rencana tersebut, Hanoi bernegosiasi dengan Rusia dan Jepang untuk membangun dua pembangkit listrik dengan kapasitas gabungan yang direncanakan sebesar 4 hingga 6,4 gigawatt, dengan tujuan menandatangani perjanjian dengan Rusia pada bulan September dan dengan Jepang pada akhir tahun lalu.
Namun, "Kemajuan belum sesuai harapan, dengan banyak kendala yang membutuhkan perhatian segera, seperti lambatnya laju negosiasi perjanjian kerja sama, yang sangat bergantung pada mitra asing," kata Chinh kepada para pejabat, menurut sebuah artikel di situs web portal berita pemerintah.
Baca Juga: Mantan Kepala Angkatan Darat Malaysia Ditahan Terkait Skandal Suap Kontrak Militer
Pada bulan Desember, duta besar Jepang untuk Vietnam, Naoki Ito, mengatakan kepada Reuters bahwa Jepang telah menarik diri dari rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir besar di Vietnam karena target pemerintah untuk mengoperasikannya pada tahun 2035 terlalu ambisius.
Chinh menginstruksikan para pejabat untuk menyelesaikan pembicaraan dengan Rusia pada bulan Januari dan mencari mitra baru untuk menggantikan Jepang untuk proyek kedua, dengan tujuan agar kedua pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut beroperasi "setelah tahun 2031", demikian menurut artikel tersebut.
Kedutaan Besar Rusia di Hanoi tidak segera memberikan komentar.
Baca Juga: Perusahaan Minyak AS Minta Jaminan untuk Berinvestasi di Venezuela
Vietnam, yang menjadi tempat bagi operasi manufaktur besar untuk perusahaan multinasional termasuk Samsung dan Apple, telah menghadapi pemadaman listrik besar-besaran karena permintaan dari sektor industri yang besar dan kelas menengah yang berkembang seringkali melebihi pasokan.
Jaringan listrik juga telah terbebani oleh cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, seperti kekeringan dan topan.
Negara tersebut ingin meningkatkan produksi listrik dari berbagai sumber, terutama energi terbarukan dan gas, tetapi proyek-proyek tersebut menghadapi penundaan dan ketidakpastian terkait masalah regulasi dan penetapan harga.













