kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.23%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.08%

Vokalis Roxette meninggal setelah 17 tahun melawan kanker, inilah kisahnya


Selasa, 10 Desember 2019 / 20:42 WIB
Vokalis Roxette meninggal setelah 17 tahun melawan kanker, inilah kisahnya
ILUSTRASI. FILE PHOTO: Marie Fredriksson of Roxette performs during the rehearsal of the Popkomm Music Fair Gala in Cologne August 15, 2001. The Popkomm, international fair of popmusic and entertainment takes place August 16 till 18./File Photo

Reporter: Titis Nurdiana | Editor: Titis Nurdiana

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Penyanyi Roxette Marie Fredriksson meninggal. Vokalis Roxette ini meninggal  dunia di usia 61Manager Roxette Marie Dimberd dalam peryataan resmi menyatakan: pelantun It Must Have Been Love itu mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan kanker otak selama 17 tahun.

BBC melaporkan, bintang pop Swedia yang mendirikan band Roxette bersama-sama dengan Per Gessie pada tahun 1986 itu meninggal, Senin (11/10) pagi waktu setempat. Sejumlah lagu Roxette cukup sukses di pasar global di tahun 1990 an, antara lain The Look, Joyride dan It Must Have Been Love.

"Kamu adalah teman yang paling baik selama lebih dari 40 tahun," kata teman satu bandnya Per Gessle. Menurut Gessle, kini segalanya tidak akan pernah sama pasca Marie Fredriksson tiada.

Berasal dari Halmstad, Swedia, keduanya bertemu pertama kali akhir 1970-an, saat Fredriksson menjadi anggota kombo pop Strul & Ma Mas Barn, sementara Gessle di Gyllene Tider, salah satu grup terbesar Swedia.

Mereka lantas bekerja sama tahun 1986. Kolabs keduanya  dan kemudian menjadi bintang besar di Tanah Air mereka dengan single Neverending Love, diikuti album: Pearls of Passion.

Perjalanan Roxette ke global cukup berliku. Meski populer di Skandinavia, Capitol Records menolak merilis lagu-lagu mereka di Amerika Serikat.  Sampai seorang siswa Amerika yang belajar di Swedia membawa salinan album kedua mereka ke Minneapolis. Si  siswa ini berhasil membujuk seorang radio DJ lokal untuk memainkan The Look yang kemudian membawa Roxette mencapai ketenaran.

The Look menjadi yang pertama dari empat band yang saat itu sohor. Sementara album Look Sharp! memperoleh platinum.

Roxette mencapai kesuksesan terbesar mereka ketika single Natal 1987 It Must Have Been Love, ditulis ulang untuk dan masuk dalam soundtrack film Pretty Woman pada tahun 1990. Ini menduduki puncak tangga lagu di lebih dari 10 negara.

Roxette terus melakukan tur dan merilis album sepanjang 1990-an - akhirnya menjual lebih dari 80 juta rekaman di seluruh dunia. Dikenal karena hit pop r seperti Dressed For Success dan power ballad seperti Listen To Your Heart, Roxette lantas meringkas filosofi penulisan lagu mereka dalam judul album hits terbesar 1995 mereka, Don't Bore Us, Get To The Chorus.

Jeda singkat sempat dilakukan. Gessle lantas bersatu kembali dengan Gyllene Tider, keduanya mencetak album hit lebih lanjut dengan tahun 1999 Have a Nice Day, dan Room Service tahun 2001.

Pada tahun 2002 berita mengejutkan datang. Fredriksson ditemukan pingsan di dapurnya setelah menyelesaikan latihan; dan dokter menemukan dia menderita tumor otak. Frediksson menghabiskan tiga tahun menerima perawatan, dan menulis tentang "ketakutan" yang dia rasakan dalam rekaman solo berjudul, The Change.

Pada tahun 2005, Fredriksson mengatakan kepada surat kabar Aftonbladet Swedia bahwa perawatannya telah berhasil. "Sudah tiga tahun yang sangat sulit,  kini saya sehat," ujarnya. Selama sakit, penyanyi ini menjadikan kegiatan melukis selama perawatannya.

Dan secara mengejutkan, Roxette kembali ke panggung dengan Gessle di Amsterdam pada tahun 2008. Band ini kemudian mengadakan tur comeback yang laris manis di seluruh Eropa. Mereka juga merilis beberapa album baru . Hanya, pada tahun 2016 kegiatan ini terhenti. Sang vokalis Marie Frediksson kesehatannya kembali menurun dan dokter menyarankannya untuk berhenti tur.

Dalam otobiografinya, penyanyi itu berbicara tentang dampak kanker pada hidupnya."Akhirnya, rasanya seperti saya telah berdamai dengan cedera radiasi yang harus saya jalani. Begitulah yang terjadi," tulisnya dalam The Love Of Life.

Fredriksson juga menyebut, ia telah kehilangan bertahun-tahun karena penyakit ini.  “Itu juga menyedihkan karena usia. Tapi setiap hari aku merasa bersyukur bisa duduk di sini. Dan aku masih bisa bernyanyi,” ujarnya.

Penyanyi Roxette itu akhirnya memang harus pergi, meninggalkan penggemarnya,  Senin (9/12),  setelah kambuh penyakitnya. "Dan,

Marie meninggalkan kita warisan musik yang agung," imbuh manajer Roxette Marie Dimberg,

Suara Marie Frediksson memang luar biasa, kuat dan sensitif. Pertunjukan live-nya akan diingat oleh kita semua yang cukup beruntung menyaksikannya.

Selamat jalan Marie Fredriksson!

 

 


Tag

TERBARU

[X]
×