kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.884   -16,00   -0,09%
  • IDX 7.963   27,74   0,35%
  • KOMPAS100 1.124   7,01   0,63%
  • LQ45 816   0,69   0,09%
  • ISSI 280   2,54   0,92%
  • IDX30 426   -0,61   -0,14%
  • IDXHIDIV20 512   -2,92   -0,57%
  • IDX80 126   0,53   0,43%
  • IDXV30 138   -0,40   -0,28%
  • IDXQ30 139   -0,54   -0,39%

Wah, Google Bayar US$ 26 Miliar untuk Jadi Mesin Pencari Default di Web dan Ponsel


Minggu, 29 Oktober 2023 / 05:41 WIB
Wah, Google Bayar US$ 26 Miliar untuk Jadi Mesin Pencari Default di Web dan Ponsel
ILUSTRASI. Google Alphabet rupanya membayar US$ 26,3 miliar kepada perusahaan lain pada tahun 2021 untuk memastikan mesin pencarinya menjadi default di browser web dan ponsel.


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - NEW YOK. Google Alphabet rupanya membayar US$ 26,3 miliar kepada perusahaan lain pada tahun 2021 untuk memastikan mesin pencarinya menjadi default di browser web dan ponsel.

Demikian kesaksian seorang eksekutif perusahaan terkemuka yang disampaikan dalam persidangan antimonopoli Departemen Kehakiman, seperti dilaporkan Bloomberg News yang dikutip Reuters, Jumat (27/10).

Jumlah pembayaran yang dilakukan Google untuk status default meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2014, menurut eksekutif senior Prabhakar Raghavan yang bertanggung jawab atas pencarian dan periklanan.

Pendapatan Google dari iklan pencarian mencapai US$ 146,4 miliar pada tahun 2021, sementara pembayaran untuk pengaturan default adalah biaya terbesarnya, kata Raghavan dalam laporan Bloomberg.

Baca Juga: Elon Musk, Mark Zuckerberg, Hingga Bill Gates Berkumpul di Forum Kecerdasan Buatan

Google menolak mengomentari kesaksian tersebut ketika dihubungi oleh Reuters.

Perusahaan tersebut berpendapat bahwa perjanjian bagi hasil adalah sah dan mereka telah berinvestasi untuk menjaga bisnis pencarian dan periklanannya tetap kompetitif.

Google juga berpendapat bahwa jika orang tidak puas dengan defaultnya, mereka dapat, dan memang demikian, beralih ke penyedia pencarian lain.

Google keberatan untuk mengungkapkan angka-angka tersebut, dengan mengatakan bahwa angka tersebut akan merugikan kemampuan perusahaan untuk menegosiasikan kontrak di masa depan.

Hakim Amit Mehta, yang mengawasi kasus ini, memutuskan bahwa angka-angka tersebut harus diungkapkan, tambah laporan itu.




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×