CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

WHO: Sulit mencapai herd immunity Covid-19 dalam waktu dekat


Minggu, 17 Januari 2021 / 13:00 WIB


Sumber: AP | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - JENEWA. Sadar akan sejumlah perkembangan serta mutasi virus SARS-CoV-2, WHO mengakui herd immunity Covid-19 akan sulit tercapai dalam waktu dekat.

Kepala ilmuwan WHO baru-baru ini memperingatkan masyarakat global, bahwa herd immunity dalam kasus Covid-19 sangat tidak mungkin terjadi tahun ini meskipun vaksin sudah tersedia.

Dr. Soumya Swaminathan dalam pengarahan Senin (11/1) bahkan mengatakan, saat ini masih banyak negara yang belum bisa keluar dari fase kritis dalam penanganan Covid-19.

Dilansir dari AP, Swaminathan menyambut langkah baik Inggris, AS, Prancis, Kanada, Jerman, Israel, Belanda, dan beberapa negara lainnya yang telah mulai memvaksinasi Covid-19 untuk jutaan warganya.

"Meskipun vaksin mulai melindungi orang-orang yang paling rentan, kita tidak akan dapat mencapai tingkat kekebalan populasi (herd immunity) pada tahun 2021," ungkap Swaminathan.

Baca Juga: China: Tim WHO untuk menyelidiki asal usul Covid-19 akan tiba pada 14 Januari

Ia menambahkan, kalau pun itu bisa terjadi di beberapa lokasi di dunia, itu tidak akan bisa melindungi semua orang di dunia.

Secara umum, ilmuwan menjelaskan, untuk mencapai herd immunity diperlukan tingkat vaksinasi sekitar 70%. Sayangnya, beberapa menilai sifat Covid-19 yang sangat menular bisa menyebabkan ambang batas menjadi lebih tinggi.

Masalah lain yang muncul adalah ada ketimpangan tingkat vaksinasi antara negara kaya dan negara miskin di dunia. Saat ini, negara miskin dan berkembang masih cukup sulit mendapatkan akses menuju vaksin meskipun WHO telah membentuk Covax sebagai penjamin.

Penasihat Direktur Jenderal WHO Dr. Bruce Aylward mengatakan, WHO berharap negara miskin bisa memulai program vaksinasi pada akhir bulan ini, atau selambat-lambatnya pada bulan Februari.

"WHO membutuhkan kerja sama produsen vaksin, khususnya untuk mengimunisasi populasi yang rentan. WHO memiliki rencana yang merinci negara berkembang mana yang mungkin mulai menerima vaksin bulan depan," kata Dr. Aylward.

Baca Juga: WHO soroti ketimpangan jumlah vaksin antara negara kaya dan negara miskin




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×