kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Xi Jinping dan Kim Jong Un Sepakat Perkuat Kerja Sama Politik, Ekonomi, dan Budaya


Selasa, 09 Juni 2026 / 16:22 WIB
Xi Jinping dan Kim Jong Un Sepakat Perkuat Kerja Sama Politik, Ekonomi, dan Budaya
ILUSTRASI. Presiden Xi Jinping dan Kim Jong Un sepakat perluas kerja sama. (VIA REUTERS/XINHUA)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.,CO.ID - SEOUL/BEIJING. Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sepakat memperluas kerja sama di bidang politik, ekonomi, dan budaya dalam pertemuan tingkat tinggi di Pyongyang yang disebut membuka babak baru hubungan bilateral kedua negara.

Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Selasa (9/6/2026) melaporkan bahwa kunjungan Xi, yang merupakan lawatan pertamanya dalam tujuh tahun ke satu-satunya sekutu formal China yang terikat perjanjian, menghasilkan komitmen bersama untuk mempererat komunikasi strategis melalui pertukaran pejabat tingkat tinggi.

Dalam pertemuan tersebut, Xi menyampaikan tekadnya untuk terus mendorong kemajuan hubungan kedua negara. Sementara itu, Kim Jong Un menegaskan dukungannya terhadap kebijakan Beijing mengenai Taiwan.

Menurut KCNA, Kim menyatakan akan sepenuhnya mendukung "Prinsip Satu China", yang dipandang Beijing sebagai prinsip bahwa kedua sisi Selat Taiwan merupakan bagian dari satu negara, "terlepas dari perubahan situasi internasional."

China menganggap Taiwan yang memiliki pemerintahan demokratis sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menyatukan pulau tersebut di bawah kendali Beijing. Namun, pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan tersebut.

Baca Juga: AS Masukkan Alibaba, BYD, dan Baidu Sebagai Perusahaan Pendukung Militer China

Pada hari yang sama, Xi juga mengunjungi Menara Persahabatan Tiongkok-Korea di Pyongyang yang dibangun untuk mengenang tentara China yang gugur dalam Perang Korea. Menurut kantor berita Xinhua, Xi dan Kim turut menanam pohon cemara di kompleks sekolah kader politik utama Korea Utara sebagai simbol "persahabatan yang terus diperbarui."

Analis Menilai Ada Perbedaan Prioritas

Meski kedua negara menunjukkan hubungan yang harmonis, sejumlah analis melihat adanya perbedaan penekanan dalam pernyataan resmi masing-masing pihak.

Xinhua menyoroti berbagai usulan konkret, mulai dari pertukaran pejabat tingkat tinggi, peningkatan perdagangan dan pertanian, hingga pemulihan konektivitas transportasi. Sebaliknya, KCNA menggambarkan pertemuan tersebut lebih sebagai kemitraan antara dua negara yang setara.

Profesor dari Kyungnam University Korea Selatan, Lim Eul-chul, menilai Pyongyang lebih menekankan martabat rezim dan "hubungan khusus" dengan China, sementara Beijing berfokus pada kerja sama antarnegara dan inisiatifnya dalam membangun tatanan internasional.

Peneliti senior Korea Institute for National Unification, Hong Min, mengatakan Korea Utara sengaja menghilangkan narasi yang dapat menggambarkannya sebagai pihak yang bergantung pada China.

"Korea Utara menghapus unsur-unsur yang dapat membuatnya terlihat sebagai pihak bawahan, bergantung, atau penerima manfaat, lalu menulis ulang hubungan tersebut sebagai hubungan antarpihak yang setara," ujar Hong Min.

Ia menambahkan, "Mereka memperkuat sinyal solidaritas, seperti pesan-pesan anti-Amerika Serikat dan terkait Taiwan, sambil menghilangkan kesan ketergantungan atau subordinasi."

Fokus pada Perdagangan dan Pariwisata

China merupakan mitra dagang terbesar Korea Utara. Sejumlah analis memperkirakan kunjungan Xi juga bertujuan memperkuat kerja sama di sektor perdagangan dan pariwisata.

Baca Juga: Jatah Tiket Piala Dunia Iran Dicabut, Suporter Terancam Gagal Menonton

Seorang dokter berusia 43 tahun di Beijing yang hanya memperkenalkan diri sebagai Zhu mengatakan hubungan kedua negara memiliki prospek positif meski masih terdapat sejumlah tantangan.

"Tentu ada harapan yang baik bagi hubungan China dan Korea Utara," katanya.

Namun ia menambahkan, "Saya merasa terkadang kedua negara tampak sangat akrab di permukaan, tetapi pada kenyataannya masih banyak persoalan yang belum terselesaikan."

Pertunjukan Lagu Patriotik dan Jamuan Kenegaraan

Xi Jinping bersama Ibu Negara Peng Liyuan menghadiri pertunjukan lagu-lagu China dan Korea Utara didampingi Kim Jong Un beserta istrinya, Ri Sol Ju, serta sejumlah pejabat tinggi kedua negara.

Menurut KCNA, lagu-lagu yang ditampilkan menonjolkan "nilai dan kedekatan persahabatan antara Republik Demokratik Rakyat Korea dan China."

Kim juga menggelar jamuan makan malam untuk Xi dan delegasinya. Dalam kesempatan itu, Xi menyampaikan keinginannya untuk "berbagi persahabatan" dengan Kim.

KCNA melaporkan Xi menyebut hubungan China-Korea Utara kini telah memasuki "titik awal sejarah yang baru", bertepatan dengan peringatan 65 tahun perjanjian persahabatan kedua negara.

Sebelumnya, Xinhua juga melaporkan Xi menegaskan bahwa Beijing tidak akan menyimpang dari komitmennya untuk melindungi "kepentingan bersama."

Isu Nuklir Tak Menjadi Sorotan

Media Korea Utara tidak menyebut apakah program senjata nuklir Pyongyang maupun hubungan dengan Amerika Serikat menjadi bagian dari pembahasan kedua pemimpin.

Baca Juga: Demam IPO SpaceX Melanda Asia: Investor Berburu Saham Proksi & Rantai Pasok Elon Musk

Profesor ilmu politik National University of Singapore, Ja Ian Chong, menilai absennya isu tersebut mengindikasikan Beijing ingin kunjungan ini dipandang terutama sebagai upaya memperkuat hubungan bilateral.

Pada masa jabatan pertamanya sebagai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bertemu Kim Jong Un sebanyak tiga kali sebelum upaya diplomatik itu gagal mencapai kesepakatan akibat tuntutan Washington agar Korea Utara meninggalkan program nuklirnya. Trump belakangan menyatakan bersedia membuka kembali dialog dengan Pyongyang.

Profesor studi internasional di Ewha Womans University Seoul, Leif-Eric Easley, menilai komunikasi antara Beijing dan Pyongyang kemungkinan akan terus berlangsung sebelum potensi pertemuan baru antara Kim dan Trump.

"Meskipun sangat mungkin para pemimpin China dan Korea Utara akan berkonsultasi sebelum Kim kemungkinan kembali bertemu Trump, masih diragukan bahwa Xi akan menjadi katalis bagi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Korea Utara," ujarnya.

Menurut kantor berita Yonhap, Xi dijadwalkan kembali ke China pada Selasa sore setelah menyelesaikan rangkaian kunjungannya di Pyongyang.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×