Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - SINGAPORE/LONDON. Mata uang yen Jepang tiba-tiba menguat pada Jumat (23/1/2026), meningkatkan spekulasi pasar bahwa pihak berwenang telah melakukan penyesuaian suku bunga yang seringkali merupakan pendahulu intervensi. Sementara dolar AS diperkirakan akan mengalami penurunan mingguan paling tajam sejak Juni karena ketegangan geopolitik mengganggu investor.
Jumat (23/1/2026), yen sempat melemah hingga 159,2 per dolar AS, mendekati level terendah 18 bulan, selama konferensi pers oleh Gubernur Bank Sentral Jepang Kazuo Ueda setelah BOJ mempertahankan suku bunga tetap. Tetapi kemudian tiba-tiba yen menguat menjadi 157,3 per dolar.
Para trader waspada terhadap kemungkinan intervensi dari Tokyo untuk menghentikan penurunan mata uang Jepang. Meskipun konsensus pasar menyebut otoritas belum melakukan intervensi secara langsung tetapi telah melakukan pengecekan suku bunga dengan bank-bank.
"Saya rasa itu bukan intervensi karena... itu tidak sesuai dengan pola yang telah kita lihat ketika mereka melakukannya. Biasanya Anda akan melihat penurunan yang sangat besar pada nilai tukar dolar-yen," kata Jonas Goltermann, wakil kepala ekonom pasar di Capital Economics seperti dilansir Reuters.
Baca Juga: CEO JPMorgan Kritik Elite Davos, Singgung Kebijakan Trump dan Pentingnya Persatuan
Ia juga menyinggung kemungkinan adanya apa yang disebut 'pemeriksaan suku bunga'.
Pemeriksaan suku bunga—menanyakan berapa harga yang akan diperoleh jika Jepang menjual yen—adalah sesuatu yang dapat digunakan otoritas Jepang untuk memberi sinyal kesiapan mereka memasuki pasar.
Menteri Keuangan Jepang menolak berkomentar soal ini.
Yen telah berada di bawah tekanan yang tak henti-hentinya sejak Sanae Takaichi mengambil alih jabatan Perdana Menteri Jepang pada bulan Oktober 2025. Yen telah melemah lebih dari 4% karena kekhawatiran fiskal dan berada di dekat level yang telah memicu peringatan verbal dan kekhawatiran intervensi.
Penurunan tajam pasar obligasi minggu ini menggarisbawahi kegelisahan investor tentang posisi fiskal Jepang ketika Takaichi mengumumkan pemilihan umum sela pada bulan Februari dan menjanjikan pemotongan pajak, yang menyebabkan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang mencapai rekor tertinggi. Imbal hasil tersebut telah pulih sedikit sejak saat itu, tetapi investor tetap waspada.
Baca Juga: BOJ Tahan Suku Bunga di Level 0,75%, Naikkan Proyeksi Pertumbuhan dan Inflasi













