Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam dua bulan pada perdagangan Selasa (21/7/2026).
Meningkatnya ketegangan konflik antara AS dan Iran menjadi sentimen utama pasar di tengah minimnya agenda rilis data ekonomi pekan ini.
Baca Juga: Ancaman Houthi Paksa Dua Kapal Tanker Minyak Saudi Ubah Rute Pelayaran
Melansir Reuters, yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun naik 3,62 basis poin menjadi 4,634% dan sempat menyentuh 4,640%, level tertinggi sejak 20 Mei.
Sementara itu, yield obligasi tenor dua tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed), naik 3,38 basis poin menjadi 4,249%.
Kenaikan yield terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia lebih dari 2% setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan.
Selain itu, ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi di Yaman turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Pelaku pasar kini menilai apakah lonjakan harga minyak tersebut akan mendorong kembali inflasi sehingga meningkatkan peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Baca Juga: Ranking FIFA Terbaru: Spanyol Nomor 1, Norwegia Melesat 12 Peringkat
Kepala Perdagangan Obligasi dan Kredit Pemilikan Rumah AS di Manulife Investment Management, Michael Lorizio, mengatakan harga energi kini berada di atas level saat rapat Federal Reserve pada Juni lalu, ketika mayoritas pembuat kebijakan masih memperkirakan perlunya kenaikan suku bunga.
"Harga minyak dan gas telah mengalami penyesuaian naik. Setelah sikap The Fed yang lebih dovish pada pertemuan terakhir, kini mungkin kita perlu meninjau kembali pandangan yang berkembang sebelum terjadinya deeskalasi konflik Iran," ujar Lorizio.
Menurutnya, ekspektasi inflasi sempat menurun setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata pada pertengahan Juni.
Ekspektasi tersebut kembali melemah setelah data pekan lalu menunjukkan inflasi konsumen AS pada Juni melambat lebih besar dari perkiraan.
Namun, memburuknya kembali konflik di Timur Tengah kini membuat ekspektasi inflasi kembali meningkat dari level terendahnya.
Selisih (spread) yield antara obligasi tenor dua tahun dan 10 tahun berada di kisaran 38,2 basis poin.
Baca Juga: AS dan China Dijadwalkan Gelar Dialog AI pada September
Pada pertemuan 16–17 Juni lalu, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, para pembuat kebijakan mengindikasikan masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini karena inflasi dinilai masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.
Pasar memperkirakan The Fed kembali akan mempertahankan suku bunga pada rapat berikutnya yang berakhir pada 29 Juli.
Meski demikian, kontrak berjangka Fed Funds menunjukkan pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 67% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga paling cepat pada September. Peluang kenaikan suku bunga hingga akhir tahun bahkan mencapai 86%.
Selain konflik geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan tarif impor sebesar 50% terhadap berbagai produk asal Kanada.
Baca Juga: Krisis Timur Tengah Bayangi Pertemuan ASEAN, Ketegangan Laut China Selatan Memanas
Pemerintah AS menyebut langkah tersebut sebagai respons atas perlakuan Kanada terhadap mobil, minuman beralkohol, dan produk susu asal Amerika Serikat, yang berpotensi membuka babak baru perang dagang global.
Dari sisi pasokan obligasi, Departemen Keuangan AS dijadwalkan melelang obligasi Treasury tenor 20 tahun senilai US$ 13 miliar pada Rabu (22/7), disusul lelang obligasi Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor 10 tahun senilai US$ 21 miliar pada Kamis (23/7).













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
