kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.814.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 17.266   44,00   0,26%
  • IDX 7.072   -34,13   -0,48%
  • KOMPAS100 955   -6,68   -0,69%
  • LQ45 682   -4,42   -0,64%
  • ISSI 255   -2,37   -0,92%
  • IDX30 378   -0,88   -0,23%
  • IDXHIDIV20 463   -1,76   -0,38%
  • IDX80 107   -0,70   -0,65%
  • IDXV30 135   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 121   -0,66   -0,55%

Yield US Treasury Naik, Kekhawatiran Konflik Iran Dorong Harga Minyak


Selasa, 28 April 2026 / 22:10 WIB
Yield US Treasury Naik, Kekhawatiran Konflik Iran Dorong Harga Minyak
ILUSTRASI. Forex - Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) naik seiring penguatan harga minyak pada perdagangan Selasa (28/4/2026).

Di tengah memudarnya harapan penyelesaian konflik Iran–AS yang masih berlangsung dan memicu kekhawatiran gangguan energi berkepanjangan.

Melansir Reuters, yield obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam tiga minggu terakhir, sementara harga minyak global juga menguat akibat kekhawatiran pasokan yang masih terganggu di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Coca-Cola Naikkan Proyeksi Laba 2026 Meski Tekanan Harga Energi Menguat

Kenaikan yield juga terjadi pada tenor lebih pendek. Imbal hasil obligasi dua tahun / US Treasury 2-Year Note yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga Federal Reserve naik 3,3 basis poin menjadi 3,838%. Sementara yield 10 tahun naik 2,3 basis poin ke 4,36%.

Kurva imbal hasil antara obligasi dua dan 10 tahun tercatat sedikit menurun menjadi 52 basis poin, mencerminkan pergerakan pasar yang masih berhati-hati terhadap arah ekonomi dan kebijakan moneter.

Menurut Will Compernolle, Macro Strategist FHN Financial, kenaikan yield saat ini erat kaitannya dengan lonjakan harga minyak dan sentimen pasar yang fluktuatif.

“Kenaikan yield mengikuti kenaikan harga minyak. Ini lebih karena sentimen yang tidak stabil, di mana pandangan pasar terhadap konflik AS–Iran berubah dari hari ke hari meskipun fundamentalnya tidak banyak berubah,” ujarnya.

Baca Juga: Superyacht Miliarder Rusia Lolos Lewati Selat Hormuz di Tengah Blokade Iran–AS

Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan dua hari bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan.

Kenaikan harga minyak akibat konflik Iran turut meningkatkan kekhawatiran inflasi kembali menguat, sehingga mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Saat ini, pasar berjangka memperkirakan hanya 24% kemungkinan pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun.

Di sisi lain, pemerintah AS juga melanjutkan penerbitan surat utang. Departemen Keuangan akan melelang obligasi tenor tujuh tahun senilai US$44 miliar pada Selasa, sebagai bagian dari total penerbitan US$183 miliar surat utang jangka pendek dan menengah pekan ini.

Baca Juga: Trump: Iran Berada dalam “Kondisi Kolaps”, Negosiasi Damai Kembali Buntu

Sebelumnya, lelang obligasi dua tahun senilai US$69 miliar mencatat permintaan yang sesuai ekspektasi, sementara lelang obligasi lima tahun senilai US$70 miliar menunjukkan minat yang lebih lemah dari investor.

Kondisi ini menunjukkan pasar obligasi masih dipengaruhi kuat oleh kombinasi risiko geopolitik, ekspektasi inflasi, serta arah kebijakan suku bunga The Fed.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×