: WIB    --   
indikator  I  

Menjadi miliarder berkat bisnis pelayaran (1)

Menjadi miliarder berkat bisnis pelayaran (1)

Pengalaman memimpin perusahaan di bidang pelayaran, menjadi awal sejarah Torstein Hagen menjadi pengusaha sukses bidang tersebut. Sempat ingin membeli Royal Viking Line, perusahaan pelayaran mewah tempat ia bekerja, namun aksi itu gagal lantaran sang pemilik menjual asetnya tanpa sepengetahuan Hagen. Cabut dari Royal Viking, Hagen mendirikan Viking Cruises.  Usaha itu pula yang  kini menempatkan Hagen menjadi salah satu miliarder dunia.

Berpengalaman di bidang manajemen dan bisnis pelayaran kapal, membuat Torstein Hagen mantap mendirikan perusahaan Viking Cruises. Apalagi, pria alumnus Fisika pada Institut Teknologi Norwegia tersebut, sebelumnya juga lama berkarier di bisnis pelayaran.

Sebelum mendirikan perusahaan nya sendiri, pria yang saat ini berumur 74 tahun itu sudah beberapa kali berkarier di bidang pelayaran. Pengalaman pertamanya saat Hagen menjadi Chief Executive Officer (CEO) di Det Bergenske Dampskibsselskab, perusahaan pelayaran Norwegia, saat masih berumur 33 tahun.

Berbekal pengalaman memimpin perusahaan pelayaran yang melayani rute Norwegia–Jerman, Hagen kemudian dipercaya sebagai pemimpin perusahaan pelayaran mewah, Royal Viking Line pada tahun 1980.

Di bawah kendali Hagen, perusahaan pelayaran yang didirikan pada tahun 1972 tersebut berhasil melancarkan ekspansi, mulai dari penambahan jumlah unit hingga kapasitas kapal.

Namun kondisi tidak selamanya sesuai apa yang diinginkan Hagen. Mengutip artikel yang ditulis avidcruiser.com, terjadi permasalahan yang berujung hengkangnya Hagen dari Royal Viking Line.

Masalah bermula saat pemilik Royal Viking Line, Waren Titus, berkeinginan menjual perusahaannya tersebut. Sebagai pemimpin Royal Viking Line saat itu, Hagen pun berkeinginan membeli saham perusahaan pelayaran ini, bersama dengan pegawai dan investor lainnya.


Namun saat Hagen sudah mampu mengumpulkan uang pembelian Royal Viking Line, Waren Titus justru melepas perusahaannya tersebut kepada pihak lain tanpa sepengetahuan Hagen. Hal ini menyebabkan Hagen kecewa, dan lantas memilih mundur dari perusahaan tersebut pada tahun 1984.

Kekecewaan tersebut tidak membuat Hagen absen lama dari dunia pelayaran. Pada sekitar tahun 1990-an, Hagen kembali berkecimpung di bisnis pelayaran, namun kali ini berstatus sebagai pemilik usaha. Bersama rekan dan investor kenalannya, Hagen mendirikan perusahaan sendiri bernama Viking Cruises.

Inspirasi Hagen mendirikan Viking Cruises tersebut adalah kala pria dua orang anak ini berlayar di wilayah Rusia. Saat itu, kapal wisata yang fokus mengarungi sungai besar tidak banyak. Hal ini yang kemudian menginspirasi Hagen mendirikan Viking Cruises.

Pada awal 1997, Hagen memulai bisnis lewat pembelian kapal dari Rusia. Seiring berjalannya waktu, Viking Cruises terus berekspansi menambah jumlah armada kapal dan memupuk pangsa pasar penduduk Eropa.

Langkah ekspansi pertama Hagen saat dia membeli sebuah kapal asal Jerman, yaitu KD River Cruisses. Buah dari pembelian itu adalah Viking Cruises kemudian memiliki hak untuk membuka jalur pelayaran sepanjang sungai Rheine, yang merupakan sungai terpanjang di Eropa.

Saat ini, Viking sudah memiliki 60 kapal yang melayani negara-negara di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat(AS). Di Asia, Hagen pada April 2014 mengawali pelayarannya di sungai Yangtze. Sedangkan di AS, Viking Cruises berlayar mulai menyusuri Mississippi sejak Februari 2015.

Saat ini, Viking Cruises mempunyai dua lini bisnis utama, yakni bisnis pelayaran sungai dan kapal laut. Dari bisnis pelayaran itu, Forbes mencatat kekayaan Hagen kini berjumlah US$ 1 miliar.

Hal tersebut utamanya bersumber dari penjualan 17% saham Viking Cruises kepada TPG Capital dan Canada Pension Plan Investment Board. Dua perusahaan investasi itu menghargai aset milik Hagen senilai US$ 3 miliar.            

(Bersambung)

 


Reporter Galvan Yudistira
Editor Tri Adi

TORSTEIN HAGEN

Feedback   ↑ x
Close [X]