: WIB    —   
indikator  I  

Merger T-Mobile dan Sprint berpeluang gagal

Merger T-Mobile dan Sprint berpeluang gagal

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Perusahaan provider internet Sprint dan T-Mobile telah menyerahkan rencana merger kedua perusahaan kepada Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) untuk tinjauan anti monopoli (antitrust) alias persaingan dagang. Sebab ada kekhawatiran nantinya merger ini akan merugikan pelanggan. 

Kabarnya, beberapa pihak merekomendasikan agar merger dihentikan. Mengutip dari Reuters pada Kamis (12/10), tiga orang sumber yang tidak ingin disebut namanya menjelaskan soal problem tersebut. Adapun kesepakatan final antara operator nirkabel AS ketiga dan keempat terbesar AS kemungkinan akan diumumkan akhir bulan ini.

Perhatian utama Departemen Kehakiman adalah apakah kesepakatan tersebut akan mempengaruhi persaingan di sektor mobile AS. T-Mobile ialah perusahaan nirkabel AS yang bisnisnya tumbuh melesat.

Jika digabungkan, kedua operator ini bakal memiliki lebih dari separuh pasar untuk layanan pra-bayar. Ini akan jadi fokus perhatian Departemen Kehakiman AS.

"Kehilangan persaingan head-to-head bisa memicu kenaikkan harga bagi konsumen yang berpenghasilan terbatas," kata Gene Kimmelman, presiden Public Knowledge, sebuah kelompok advokasi konsumen.

Jajak pendapat informal terhadap tujuh pakar anti monopoli yang dihubungi oleh Reuters mengungkapkan bahwa ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Para pakar tidak yakin apakah kesepakatan tersebut akan dihentikan atau justru diizinkan. 

Catatan saja, pasar nirkabel AS didominasi oleh Verizon dengan sekitar 146 juta pelanggan nirkabel dan AT & T dengan hampir 135 juta pelanggan. Disusul T-Mobile berada di urutan ketiga dengan 71,5 juta dan Sprint berada di peringkat nomor 4 dengan 58,5 juta, menurut data Fierce Wireless. Dus, empat provider ini memiliki 98,8% pasar nirkabel AS.
 


Reporter Agung Hidayat
Editor Dessy Rosalina

TELEKOMUNIKASI

Feedback   ↑ x
Close [X]