kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45749,52   23,69   3.26%
  • EMAS920.000 0,66%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

12 jaringan hotel top dunia digugat akibat sediakan pasar untuk perdagangan seks


Selasa, 10 Desember 2019 / 12:54 WIB
12 jaringan hotel top dunia digugat akibat sediakan pasar untuk perdagangan seks
ILUSTRASI. Pengadilan

Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - OHIO. Sebanyak 12 jaringan hotel besar di Amerika Serikat (AS) harus berurusan di meja hijau. Sebanyak 13 perempuan yang mengklaim dijual untuk layanan seks di kamar hotel-hotel itu mengajukan gugatan, Senin (10/12).

Dalam gugatannya di Pengadilan Distrik Columbus, Ohio, ke-13 wanita itu menuding ke-12 hotel tersebut mengetahui dan mengabaikan tanda-tanda peringatan bahwa perempuan dan anak-anak dijual sebagai budak seks di tempat mereka. 

Gugatan yang merupakan gabungan dari 13 kasus ini menandai pertama kalinya industri hotel--yang telah lama dituduh sebagai tempat berkembang biaknya eksploitasi seksual terhadap perempuan dan anak-anak--menghadapi aksi sebagai sebuah kelompok.

Baca Juga: Dua karyawan asal China curi rahasia perusahaan, Apple cemas mereka kabur

Kasus ini adalah gabungan 13 gugatan terpisah yang telah diajukan di Ohio, Massachusetts, Georgia, Texas, dan New York. Gugatan ini maju lewat firma hukum Weitz & Luxenberg yang berbasis di New York atas nama 13 wanita, yang banyak dari mereka masih di bawah umur ketika perdagangan itu terjadi.

Hotel yang jadi sasaran gugatan di antaranya Hilton Worldwide Holdings Inc., Red Roof Inn, Intercontinental Hotels & Resorts, Best Western Hotels & Resorts, dan Wyndham Hotels and Resorts Inc.

"Hotel-hotel itu mendapat untung dan manfaat finansial dengan menyediakan pasar untuk perdagangan seks," kata Weitz & Luxenbeg dalam gugatannya, seperti dikutip Reuters, yang menyebut kasus itu sebagai kegagalan industri secara luas.

Baca Juga: Penasihat pengadilan Eropa: Amazon harus memeriksa pelanggaran merek dagang

"Penyimpangan korporasi semacam itu telah menyebabkan berkembangnya perdagangan seks yang terjadi di hotel-hotel yang telah mencapai tingkat epidemi nasional," ujar Weitz & Luxenbeg.

Menurut laporan bertajuk Indeks Perbudakan Global yang diterbitkan kelompok hak asasi manusia Walk Free Foundation, diperkirakan 400.000 orang terjebak dalam perbudakan modern di AS, mulai kerja paksa hingga perdagangan seks. 

“Ini bukan satu apel buruk yang perlu ditangani,” kata Luis CdeBaca, mantan Duta Besar Anti-Perdagangan Manusia AS. "Seluruh barel memiliki masalah. Selama bertahun-tahun industri perhotelan telah mengetahui bahwa perdagangan seks dan terutama perdagangan seks anak terjadi di properti mereka, namun itu terus terjadi".



TERBARU

[X]
×