Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Tahun 2025 masuk di daftar tiga besar tahun terpanas yang pernah tercatat di planet ini. Temuan ini dipublikasikan oleh World Meteorological Organization (WMO), Rabu (14/1/2026)
Para ilmuwan Uni Eropa juga mengkonfirmasi bahwa suhu rata-rata kini telah melampaui 1,5o Celcius dari pemanasan global, untuk jangka waktu terlama sejak pencatatan dimulai.
WMO menggabungkan kumpulan data iklim dari delapan lembaga di seluruh dunia. WMO mengatakan, enam lembaga di antaranya, termasuk European Centre for Medium-Range Weather (ECMWF) Uni Eropa dan layanan cuaca nasional Inggris, 2025 merupakan tahun terpanas ketiga yang pernah tercatat dalam sejarah.
Baca Juga: CEO Nestlé Minta Maaf atas Penarikan Produk Susu Bayi di Puluhan Negara
Sementara ada dua lembaga lainnya menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas kedua dalam catatan 176 tahun. National Oceanic and Atmospheric Administration Amerika Serikat juga mengkonfirmasi, dalam laporan yang dirilis Rabu (14/1/2026), 2025 adalah tahun terpanas ketiga dalam catatan suhu globalnya, yang dimulai sejak tahun 1850.
WMO menyebut, kumpulan data dari delapan lembaga tersebut mengkonfirmasi bahwa tiga tahun terakhir adalah tiga tahun terpanas di planet ini sejak pencatatan dimulai. Tahun terpanas yang pernah tercatat adalah tahun 2024.
ECMWF mengatakan tahun 2025 juga melengkapi periode tiga tahun pertama di mana suhu global rata-rata mencapai 1,5 C di atas era pra-industri. Ini merupakan batas di mana para ilmuwan memperkirakan pemanasan global akan melepaskan dampak yang parah, beberapa di antaranya tidak dapat dipulihkan.
Baca Juga: Ancaman Nyata Perubahan Iklim: Kota-Kota Ini Berisiko Hilang pada 2100
"1,5 C bukanlah jurang maut. Namun, kita tahu bahwa setiap sepersekian derajat itu penting, terutama bisa memperburuk peristiwa cuaca ekstrem," kata Samantha Burgess, Strategic Lead for Climate ECMWF.
Burgess memperkirakan, tahun 2026 juga akan menjadi salah satu dari lima tahun terpanas di planet ini.
Pemerintah banyak negara berjanji, berdasarkan Perjanjian Paris 2015, untuk mencoba menghindari suhu melebihi 1,5°C pemanasan global. Namun, banyak negara mencetak kegagalan.
Baca Juga: Draf COP30 Hapus Usulan Kesepakatan Transisi Energi Fosil
Artinya, target suhu tersebut sepertinya akan ditembus sebelum 2030. Padahal sebelumnya, suhu melebihi 1,5°C pemanasan global diperkirakan baru tercapai di 2040.
"Kita pasti akan melewati suhu tersebut," kata Carlo Buontempo, Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa. Karena itu, menurut Buontempo, yang penting sekarang adalah memikirkan cara terbaik mengelola kelebihan suhu yang tak terhindarkan dan memitigasi konsekuensinya terhadap masyarakat dan sistem alam.
Suhu yang melebihi batas jangka panjang 1,5°C akan menyebabkan dampak yang lebih ekstrem dan meluas, termasuk gelombang panas yang lebih panas dan lebih lama, serta badai dan banjir yang lebih dahsyat.
Baca Juga: Bank Global Ramai-ramai Hengkang dari NZBA, Arah Kebijakan Iklim Berubah
Pada 2025, kebakaran hutan di Eropa telah menghasilkan emisi total tertinggi yang pernah tercatat. Studi ilmiah mengkonfirmasi bahwa peristiwa cuaca tertentu diperburuk oleh perubahan iklim, termasuk Badai Melissa di Karibia dan hujan monsun di Pakistan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang akibat banjir.
Terlepas dari dampak yang semakin memburuk ini, upaya memitigasi perubahan iklim menghadapi penolakan politik. Presiden AS Donald Trump menyebut perubahan iklim sebagai penipuan terbesar. AS telah menarik diri dari puluhan badan PBB termasuk Intergovernmental Panel on Climate Change.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
