Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Lebih dari dua lusin kapal Rusia yang dikenai sanksi karena menjadi bagian dari apa yang disebut “armada bayangan” (shadow fleet) berhasil melintas di perairan Inggris sejak Perdana Menteri Keir Starmer pekan lalu memberi otorisasi kepada militer untuk menahan kapal-kapal yang digunakan Moskow untuk mengekspor minyak.
Angka tersebut, berdasarkan data pelacakan kapal yang dianalisis Reuters, menunjukkan bahwa kapal tanker minyak yang dikenai sanksi oleh Inggris tetap melintas di sepanjang pesisir selatan Inggris dalam jumlah yang sama seperti sebelum pengumuman tersebut.
Pejabat Inggris hampir sepekan lalu mengatakan bahwa militer sedang bersiap untuk menaiki kapal-kapal tersebut karena dugaan pelanggaran sanksi, dan pemerintah berharap pengumuman itu akan memaksa kapal-kapal tersebut mengambil rute yang lebih panjang menjauhi perairan Inggris. Rusia menyebut langkah itu sebagai “tindakan yang sangat bermusuhan” dan mengatakan bisa melakukan pembalasan.
Sejak pernyataan tersebut, militer Inggris belum mengumumkan telah menaiki kapal Rusia mana pun. Sementara, setidaknya 25 kapal yang dikenai sanksi telah memasuki perairan Inggris ketika melintasi Selat Channel seperti sebelumnya, menurut analisis Reuters.
Rusia Untung dari Kenaikan Harga Minyak
James Fennell, mantan perwira Angkatan Laut Inggris, mengatakan militer Inggris kemungkinan hanya akan menargetkan kapal Rusia secara selektif, mengingat rumitnya operasi, ancaman gugatan hukum, dan risiko bahwa tindakan seperti itu dapat membawa Inggris selangkah lebih dekat menuju perang dengan Rusia.
“Pemerintah berharap ancaman ini bertindak sebagai efek jera dan akan mengukur dampaknya sebelum melakukan operasi pemeriksaan naik kapal yang berpotensi berisiko,” kata dia. “Mereka akan menggunakan jalur belakang (back channels) untuk memberi tahu Rusia agar menghentikan tindakan tersebut.”
Baca Juga: Dolar Stabil Rabu (1/4) Pagi, Harapan Akhir Perang Iran Redam Permintaan Safe Haven
Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan setiap tindakan penegakan akan dipertimbangkan berdasarkan kasus per kasus dan pihaknya tidak akan memberikan “komentar berkelanjutan” terkait potensi tindakan.
Starmer mengatakan pada Rabu malam pekan lalu bahwa ia telah mengotorisasi pemeriksaan naik kapal dan penahanan kapal Rusia untuk mencegah Presiden Rusia Vladimir Putin memperoleh “keuntungan kotor” dari lonjakan tajam harga minyak yang dipicu perang AS-Israel dengan Iran.
Kapal-kapal Rusia dalam armada tanker “shadow fleet” yang digunakan Moskow untuk mendanai perang yang telah berlangsung empat tahun melawan Ukraina, berlayar melalui Selat Channel karena itu merupakan rute paling nyaman untuk perjalanan antara wilayah Baltik dan Eropa selatan serta wilayah lainnya.
Negara-negara Eropa lain, termasuk Prancis, Belgia, dan Swedia, dalam beberapa bulan terakhir telah menaiki dan menahan kapal-kapal guna mengganggu jaringan kapal tersebut.
Presiden AS Donald Trump bulan ini sementara melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia sebagai bagian dari upaya pemerintahannya untuk menekan harga energi.
Baca Juga: Naik Kelas! Saham Yunani Masuk Pasar Maju MSCI 2027
Dasar Hukum Sangat Terbatas
Inggris telah menjatuhkan sanksi terhadap 544 kapal armada bayangan Rusia, yang berarti kapal-kapal tersebut dilarang memasuki pelabuhan Inggris dan dapat ditahan, menurut pemerintah.
Pole Star Global, perusahaan data dan intelijen maritim, mengatakan sekitar dua lusin kapal semacam itu melintasi perairan Inggris rata-rata setiap pekan sejak awal tahun ini.
Douglas Guilfoyle, profesor yang ahli dalam keamanan maritim di University of New South Wales, mengatakan meski Inggris telah menjatuhkan sanksi terhadap kapal-kapal Rusia, Inggris perlu menggunakan argumen hukum yang belum teruji untuk bisa menaiki kapal tersebut.
Guilfoyle mengatakan hanya ada dua dasar hukum yang jelas untuk menahan kapal-kapal itu: rezim sanksi Dewan Keamanan PBB, yang saat ini tidak berlaku, atau memperlakukan penyitaan sebagai “tindakan balasan” (countermeasure) sebagai respons terhadap perang Rusia di Ukraina, yang ia sebut sebagai argumen hukum “baru dan belum teruji”.
“Ada pengecualian yang sangat terbatas yang dapat membenarkan gangguan terhadap hak transit passage atau hak innocent passage kapal asing, bahkan kapal yang dikenai sanksi sepihak Inggris,” katanya.
Tonton: Strategi Baru AS Hadapi Drone Murah Iran: Lawan Murah dengan Murah!
Brett Erickson, pakar sanksi yang bekerja di firma konsultan Obsidian Risk Advisors, mengatakan pemerintah Inggris terlihat lemah karena mengumumkan siap menahan kapal Rusia, tetapi belum mengambil tindakan apa pun.
“Dalam sanksi, Anda tidak bisa setengah-setengah, Anda harus sepenuhnya masuk, atau sepenuhnya keluar,” katanya.













