kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   -30.000   -1,10%
  • USD/IDR 17.869   80,00   0,45%
  • IDX 6.172   -48,40   -0,78%
  • KOMPAS100 818   -6,94   -0,84%
  • LQ45 617   -8,31   -1,33%
  • ISSI 211   -1,14   -0,54%
  • IDX30 349   -5,96   -1,68%
  • IDXHIDIV20 427   -9,63   -2,21%
  • IDX80 93   -0,82   -0,87%
  • IDXV30 114   -1,07   -0,93%
  • IDXQ30 111   -2,80   -2,45%

3 Kapal Tanker Arab Saudi Angkut 6 Juta Barel Minyak Melintasi Selat Hormuz


Kamis, 18 Juni 2026 / 18:42 WIB
3 Kapal Tanker Arab Saudi Angkut 6 Juta Barel Minyak Melintasi Selat Hormuz
ILUSTRASI. Tiga kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi yang mengangkut sekitar 6 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz pada Kamis (18/6/2026) (AFP/AFP)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tiga kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi yang mengangkut sekitar 6 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz pada Kamis (18/6/2026), hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang yang selama beberapa bulan terakhir mengganggu pasokan energi global.

Meski demikian, perkembangan positif tersebut belum sepenuhnya membawa stabilitas di kawasan Timur Tengah. Di Lebanon, serangan udara Israel kembali terjadi pada Kamis pagi, memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana pemerintahan Trump akan menekan sekutunya untuk menghentikan operasi militer yang sebelumnya dijanjikan akan diakhiri.

Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding) pada Rabu (17/6). Kesepakatan tersebut mulai berlaku dua hari lebih cepat dari jadwal semula dan memuat ketentuan pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selat Hormuz Mulai Kembali Ramai

Pelaku industri pelayaran memperkirakan arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih membutuhkan waktu untuk kembali ke tingkat sebelum perang, mengingat perlunya memastikan jalur pelayaran aman dan bebas dari ranjau.

Baca Juga: Kapal Tanker Pertama Melintasi Selat Hormuz Pasca Kesepakatan AS-Iran DIteken

Namun, sejumlah tanda pemulihan mulai terlihat. Kapal-kapal yang sebelumnya cenderung mematikan sistem identifikasi otomatis (transponder) untuk menyembunyikan lokasi kini kembali menyiarkan posisi mereka sebagai persiapan melintasi jalur strategis tersebut.

Sejalan dengan perkembangan itu, harga minyak mentah Brent juga mengalami penurunan sekitar 2% hingga berada di bawah US$78 per barel, menjadi level terendah sejak konflik bersenjata dimulai.

Nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran juga menandai dimulainya periode negosiasi selama 60 hari untuk mencapai penyelesaian permanen atas perang yang dimulai pada Februari lalu.

Kesepakatan Secara Tegas Meminta Perang di Lebanon Diakhiri

Salah satu poin penting dalam memorandum tersebut adalah seruan untuk mengakhiri perang di Lebanon secara permanen sekaligus menjamin integritas wilayah dan kedaulatan negara tersebut.

Israel sendiri tidak dilibatkan dalam proses negosiasi, meskipun negara itu melancarkan invasi ke Lebanon selatan sejak Maret dalam operasi memburu kelompok Hizbullah yang melakukan serangan lintas perbatasan sebagai bentuk dukungan kepada Iran.

Selama ini Iran selalu menegaskan bahwa setiap perjanjian damai harus mencakup penyelesaian konflik di Lebanon. Masuknya klausul mengenai penghentian permanen perang di Lebanon dipandang sebagai salah satu konsesi besar yang diberikan Washington kepada Teheran.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump juga mulai secara terbuka mengkritik operasi militer Israel di Lebanon dan menilai serangan yang menghancurkan bangunan-bangunan besar untuk menargetkan pejuang Hizbullah dilakukan secara berlebihan.

Israel Masih Bernegosiasi dengan Amerika Serikat

Dua pejabat Israel, termasuk seorang pejabat senior yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengatakan pemerintah Israel masih melakukan pembicaraan intensif dengan Amerika Serikat terkait keberlanjutan penempatan pasukan di Lebanon selatan.

Baca Juga: Saudi Aramco Kaji Perluasan Kapasitas Penyimpanan Global Imbas Perang Iran

Menurut sumber tersebut, Israel tetap ingin mempertahankan kehadiran militernya di wilayah yang mereka sebut sebagai zona penyangga di selatan Sungai Litani.

Salah satu pejabat senior Israel yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan: "Kami sedang melakukan negosiasi yang alot dengan Washington mengenai kelanjutan penempatan pasukan kami di Lebanon selatan."

Pejabat lain menyebut hasil pembicaraan itu pada akhirnya akan bergantung pada apakah Trump memutuskan untuk memaksakan implementasi kesepakatan dengan memberikan konsekuensi apabila Israel tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian sementara dengan Iran.

Warga Lebanon Masih Diliputi Ketidakpastian

Meski kesepakatan damai telah ditandatangani, situasi di Lebanon belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar mereda.

Media pemerintah Lebanon melaporkan serangan udara dan tembakan artileri Israel kembali menghantam sejumlah kota di wilayah selatan, menewaskan sedikitnya satu orang yang berada di dalam kendaraan.

Seorang warga yang mengungsi dari kota Nabatieh ke Beirut, Mohammed Doghman, mengaku masih bingung dengan kondisi yang terjadi.

"Iran dan Amerika sudah selesai. Baiklah. Tetapi di Lebanon semuanya belum berakhir. Mereka seharusnya memberi kami jawaban yang pasti: apakah perang ini benar-benar telah berakhir untuk selamanya atau kami akan kembali mengalaminya lagi?" katanya.

Baca Juga: Perang Iran Picu Lonjakan Minat Mobil Listrik di Eropa, Penjualan Melesat

Hubungan Trump dan Netanyahu Mengalami Ujian

Perubahan sikap Trump terhadap konflik Lebanon dinilai memunculkan salah satu keretakan terbesar dalam hubungan Amerika Serikat dan Israel selama beberapa dekade terakhir.

Selama bertahun-tahun, Netanyahu dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Trump. Kedekatan tersebut menghasilkan berbagai perubahan besar dalam kebijakan Amerika Serikat yang menguntungkan Israel pada masa jabatan pertama Trump dan kemudian berujung pada keputusan bersama untuk melancarkan perang terhadap Iran tahun ini.

Namun, kesepakatan terbaru antara Washington dan Teheran menuai kritik luas di Israel.

Media Times of Israel bahkan menulis bahwa Israel kini menghadapi pilihan sulit, yakni mempertahankan tekanan militer dengan risiko kehilangan dukungan diplomatik Trump atau tetap menjaga hubungan baik dengan Washington dengan cara mengakhiri atau mengurangi konflik yang selama ini dianggap sebagai salah satu prioritas keamanan negara tersebut.

Perkembangan negosiasi dalam 60 hari ke depan diperkirakan akan menjadi penentu apakah kesepakatan damai ini mampu mengakhiri ketegangan di Timur Tengah secara menyeluruh atau hanya menjadi jeda sementara di tengah konflik yang lebih luas.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×