kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 16.818   19,00   0,11%
  • IDX 8.925   -19,34   -0,22%
  • KOMPAS100 1.227   -4,69   -0,38%
  • LQ45 868   -3,70   -0,43%
  • ISSI 323   -0,54   -0,17%
  • IDX30 440   -3,19   -0,72%
  • IDXHIDIV20 519   -1,77   -0,34%
  • IDX80 137   -0,51   -0,37%
  • IDXV30 144   -0,52   -0,36%
  • IDXQ30 141   -1,08   -0,76%

Amerika Kian Agresif: Usai Maduro, Trump Bidik Greenland dan Kuba


Senin, 05 Januari 2026 / 07:51 WIB
Amerika Kian Agresif: Usai Maduro, Trump Bidik Greenland dan Kuba
ILUSTRASI. Sehari setelah operasi militer AS yang mengejutkan dunia di Venezuela, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial. ? (REUTERS/Kent Nishimura)


Sumber: Associate Press | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Sehari setelah operasi militer Amerika Serikat yang mengejutkan dunia dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial. 

Melansir AP, pada Minggu (4/1/2025), Trump menegaskan lagi keinginannya agar Amerika Serikat mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark, demi kepentingan keamanan nasional AS. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa pemerintahan komunis Kuba kini berada dalam “masalah besar”.

Pernyataan Trump dan Rubio ini mempertegas bahwa Washington serius ingin memainkan peran yang jauh lebih agresif di kawasan Belahan Bumi Barat. Nada ancaman yang tersirat membuat negara kawan maupun lawan sama-sama waswas, dan memunculkan satu pertanyaan besar di panggung global: setelah Venezuela, siapa target berikutnya?

“Kita memang butuh Greenland, itu mutlak,” ujar Trump dalam wawancara dengan The Atlantic. Ia menyebut pulau strategis di kawasan Arktik itu kini “dikepung kapal Rusia dan China”. Ketika ditanya apakah aksi militer AS di Venezuela bisa menjadi gambaran masa depan Greenland, Trump menjawab singkat, “Mereka harus menilainya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu.”

Dalam Dokumen Strategi Keamanan Nasional yang dirilis bulan lalu, pemerintahan Trump secara eksplisit menargetkan pemulihan dominasi Amerika di Belahan Bumi Barat sebagai prioritas utama periode keduanya di Gedung Putih. 

Baca Juga: Jika China Menyerang Taiwan, Ini Gambaran Perang Terbesar di Abad 21

Trump juga kembali merujuk Doktrin Monroe abad ke-19 serta Roosevelt Corollary, doktrin yang dulu dipakai AS untuk membenarkan campur tangan di kawasan, sebagai dasar pendekatan keras terhadap negara-negara tetangga. Bahkan, ia sempat bergurau bahwa doktrin itu kini disebut sebagian orang sebagai “Don-roe Doctrine”.

Operasi militer AS di Caracas yang dilakukan tengah malam, ditambah komentar Trump soal Greenland, langsung memicu kekhawatiran di Denmark. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, dengan tegas menyatakan Trump tidak punya hak untuk mencaplok Greenland. Ia mengingatkan bahwa Denmark, sesama anggota NATO, sudah memberikan akses keamanan yang luas kepada AS melalui berbagai perjanjian.

“Saya mendesak Amerika Serikat untuk berhenti mengancam sekutu dekat yang secara jelas menyatakan bahwa mereka tidak untuk dijual,” tegas Frederiksen.

Ketegangan makin meningkat setelah sebuah unggahan media sosial dari mantan pejabat pemerintahan Trump yang menampilkan peta Greenland berwarna bendera AS dengan tulisan “SEGERA”. Dubes Denmark untuk Washington pun menegaskan bahwa Denmark menuntut penghormatan penuh terhadap kedaulatan wilayahnya.

Trump sendiri tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk menguasai Greenland. Isu ini sempat mereda, namun kembali mencuat setelah Trump menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus untuk Greenland. Landry bahkan secara terbuka menyatakan akan membantu Trump “menjadikan Greenland bagian dari Amerika Serikat”.

Baca Juga: Pemerintah Venezuela Kompak Bersatu Mendukung Presiden Maduro

Kuba Ikut Waswas

Kekhawatiran juga merebak di Kuba, sekutu utama Venezuela. Marco Rubio menyebut bahwa pejabat Kuba berada di Venezuela menjelang penangkapan Maduro dan bahkan mengklaim bahwa Maduro dijaga oleh pengawal asal Kuba, bukan Venezuela. Rubio juga menuding aparat Kuba mengendalikan intelijen internal rezim Maduro.

Trump menyamakan Kuba dengan Venezuela dan menyebut negara itu sebagai “negara gagal”. Ia mengatakan AS ingin “membantu rakyat Kuba”, pernyataan yang langsung ditanggapi keras oleh otoritas Havana.

Pemerintah Kuba menyerukan kewaspadaan kawasan dan mengecam operasi militer AS. “Semua negara di kawasan harus waspada, karena ancaman ini menggantung di atas kita semua,” bunyi pernyataan resmi Kuba.

Bagi warga Kuba seperti Bárbara Rodríguez, pekerja laboratorium berusia 55 tahun, perkembangan di Venezuela memicu kecemasan. 

“Jika bisa terjadi di sana, bisa juga terjadi di sini. Kami selalu berada di garis bidik,” ujarnya.

Tonton: Amerika Tangkap Presiden Venezuela Saat Tidur, Seret dari Kamar bersama Istri

Kesimpulan

Penangkapan Nicolás Maduro menjadi sinyal kuat bahwa pemerintahan Trump siap mengambil langkah ekstrem untuk menegaskan dominasi Amerika Serikat di Belahan Bumi Barat. Pernyataan terbuka soal Greenland dan peringatan keras terhadap Kuba memperluas kekhawatiran bahwa kebijakan luar negeri AS ke depan akan semakin konfrontatif, bahkan terhadap sekutu lama. Di tengah dalih keamanan dan stabilitas kawasan, dunia kini menghadapi ketidakpastian besar: apakah Venezuela hanyalah awal dari rangkaian langkah sepihak Washington?

Selanjutnya: Sumber Sinergi (IOTF) Bidik Kinerja Tumbuh 30%, Pakai AI untuk Dongkrak Produktivitas

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Journaling yang Bagus Buat Kesehatan Mental, Biasakan di Tahun 2026 Ini




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×