Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang (emerging markets/EM) melonjak tajam pada Maret 2026, mencapai US$70,3 miliar atau terbesar sejak gejolak pasar pada awal pandemi 2020.
Melansir Reuters Rabu (8/4/2026), data dari Institute of International Finance (IIF) menunjukkan, tekanan terbesar berasal dari aksi jual di pasar saham, terutama di kawasan Asia.
Selain itu, investor juga menarik dana dari instrumen pendapatan tetap (fixed income).
Baca Juga: Shell Laporkan Penurunan Produksi Gas dan Arus Keluar Modal di Tengah Konflik Iran
IIF menyebut kondisi ini sebagai pembalikan tajam dari arus masuk dana yang “sangat besar” pada Januari dan masih positif pada Februari.
Perubahan ini mencerminkan “pergeseran rezim” akibat guncangan geopolitik besar, khususnya konflik Iran yang pecah sejak akhir Februari.
Secara rinci, arus keluar dari saham negara berkembang mencapai US$56 miliar, terbesar dalam setidaknya dua dekade terakhir.
Baca Juga: Oxford: Pemulihan Pasar Global Butuh Waktu Meski Ada Gencatan Senjata AS-Iran
Eksodus dari Asia
Laporan tersebut menunjukkan bahwa Asia menjadi pusat tekanan terbesar. Kawasan emerging Asia menyerap hampir seluruh pembalikan arus dana di pasar saham setelah sebelumnya menikmati aliran dana masuk yang kuat di awal tahun.
Ekonom senior IIF Jonathan Fortun menilai, kondisi ini mencerminkan kerentanan Asia terhadap lonjakan harga minyak serta penyesuaian portofolio berbasis saham teknologi.
Baca Juga: Harga Minyak Turun di Bawah US$100 Setelah Trump Umumkan Gencatan Senjata 2 Minggu
Konflik Iran yang meluas di kawasan mendorong harga minyak melonjak sekitar 50% hingga menembus US$100 per barel. Kenaikan ini menekan minat risiko (risk appetite) investor global.
Aset negara berkembang yang sebelumnya menguat dalam satu setengah tahun terakhir pun tertekan. Arus dana keluar meningkat tajam, sekaligus menahan penerbitan utang baru.
Sebagai contoh, saham Korea Selatan yang sempat naik hampir 50% dalam dua bulan pertama tahun ini, kehilangan lebih dari sepertiga kenaikannya setelah konflik pecah.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) juga mengingatkan bahwa banyak negara berkembang kini bergantung pada pembiayaan asing dari hedge fund, dana pensiun, dan perusahaan asuransi, sehingga lebih rentan terhadap arus keluar dana secara tiba-tiba saat krisis.
Baca Juga: Harga Minyak Turun di Bawah US$100 Setelah Trump Umumkan Gencatan Senjata 2 Minggu
Risiko Masih Membayangi
Meski demikian, Fortun menilai, tekanan pada Maret belum mencerminkan krisis pendanaan secara menyeluruh di seluruh aset negara berkembang.
Ia menyebut kondisi ini sebagai episode risk-off yang terkonsentrasi.
Arus keluar dari instrumen utang relatif lebih terbatas, yakni US$14,2 miliar. Bahkan, beberapa negara masih mencatat arus masuk, seperti China yang memperoleh dana sebesar US$2,5 miliar.
Sementara itu, pasar saham Amerika Latin juga tetap mencatat kinerja positif dengan aliran dana masuk sebesar US$1,4 miliar.
Baca Juga: Pipa Minyak Arab Saudi yang Melewati Selat Hormuz Rusak Akibat Serangan Iran
Fortun menilai, jika konflik Iran berlangsung singkat, Maret berpotensi menjadi puncak aksi jual di pasar berkembang. Namun, jika ketegangan berlanjut, tekanan bisa semakin dalam.
“Inflasi yang lebih tinggi, penundaan pelonggaran kondisi keuangan global, penguatan dolar AS, serta terbatasnya ruang kebijakan di negara berkembang akan menyulitkan stabilisasi arus dana dalam waktu cepat,” ujarnya.













