Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) bersiap mengembalikan para diplomatnya ke sejumlah kedutaan di Timur Tengah yang sebelumnya dievakuasi sebelum dan selama perang dengan Iran.
Mengutip Reuters, Selasa (25/8/2026), rencana tersebut dilaporkan oleh The New York Times (NYT) berdasarkan dokumen internal Departemen Luar Negeri AS.
Pemulangan diplomat dan pengurangan langkah-langkah darurat di sejumlah misi diplomatik AS di kawasan tersebut bahkan dapat dimulai pada pekan ini.
Baca Juga: Kepercayaan Konsumen AS Anjlok, Terendah dalam 7 Bulan
Kedutaan AS yang akan meningkatkan kembali jumlah stafnya antara lain berada di Israel, Lebanon, Arab Saudi, Qatar, Yordania, Oman, Irak dan Kuwait.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya terus mengevaluasi kondisi keamanan di berbagai misi diplomatik AS di seluruh dunia.
Penyesuaian jumlah staf di sejumlah negara Timur Tengah dilakukan berdasarkan hasil penilaian keamanan terbaru.
"Keputusan mengenai jumlah staf didorong oleh kondisi keamanan yang terus berkembang, dengan keselamatan karyawan dan keluarga mereka tetap menjadi prioritas utama, sembari memajukan tujuan kebijakan luar negeri AS," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataan kepada Reuters.
Berdasarkan dokumen internal tersebut, diplomat AS yang pertama kali kembali akan ditugaskan ke Kedutaan Besar AS di Lebanon. Namun, jumlah staf di negara tersebut masih akan berada di bawah kapasitas penuh.
Baca Juga: Yield US Treasury Turun, Harga Minyak Anjlok dan Investor Cermati Buyback
Sementara itu, jumlah staf di kedutaan AS di Israel, Yordania dan Oman pada akhirnya akan dikembalikan ke tingkat penuh.
Adapun misi diplomatik AS di Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Qatar dan Lebanon pada tahap awal akan dibatasi hingga 85% dari kapasitas staf. Sedangkan misi di Irak, Kuwait dan Bahrain akan dibatasi hingga 75%.
Evakuasi sejak Februari
Pengurangan jumlah staf diplomatik AS di kawasan Timur Tengah mulai dilakukan pada Februari 2026.
Saat itu, Washington mengizinkan keberangkatan secara sukarela bagi personel non-darurat dan anggota keluarga dari Israel di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Langkah tersebut kemudian diperluas ketika konflik AS-Iran pecah. Sejumlah personel diplomatik dan keluarga mereka dievakuasi sebagai bagian dari upaya pemerintah AS mengurangi risiko keamanan.
Baca Juga: China Borong Emas Lagi, Impor Juli Melonjak 28%, Ada Apa?
Kini, seiring perubahan kondisi keamanan di kawasan, Washington mulai mempertimbangkan pemulihan kembali operasional normal di sejumlah kedutaan.
Meski demikian, Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa keputusan mengenai pemulangan diplomat akan tetap bergantung pada perkembangan situasi keamanan di masing-masing negara.














