kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.741   22,00   0,12%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

AS dan Thailand bertemu, untuk melawan pengaruh China di Asia Tenggara?


Jumat, 10 Juli 2020 / 16:02 WIB
ILUSTRASI. Prayut Chan-O-Cha tersenyum setelah upacara pengesahan Kerajaan mengangkatnya sebagai Perdana Menteri Thailand di Kantor Pemerintah di Bangkok, Thailand, 11 Juni 2019.


Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

Thailand adalah sekutu tertua Washington di Asia. Tetapi, hubungan keduanya tegang oleh kudeta militer 2014 yang dipimpin oleh Kepala Militer Prayuth yang menggulingkan pemerintah sipil terpilih.

AS mengurangi beberapa pertukaran militer dengan Thailand, dan Bangkok menanggapi dengan menjalin hubungan lebih dekat dengan China.

Namun, hubungan AS-China kembali mesra setelah pemilihan umum Thailand tahun lalu, yang secara resmi memulihkan pemerintahan sipil sambil tetap menjadikan Prayuth sebagai pemimpin sipil atau perdana menteri.

Baca Juga: Menlu China meminta AS menghentikan pendekatan berbahaya dan lebih rasional

Hubungan yang kembali mesra itu menghasilkan kesepakatan senjata dengan Thailand untuk kendaraan pengangkut personel lapis baja dan helikopter serang ringan buatan AS tahun lalu.

Prayuth mengatakan, AS memberikan bantuan senilai US$ 2 juta untuk membantu Thailand mengatasi wabah virus corona baru, menurut rilis berita dari Kantor Perdana Menteri Thailand. Thailand sudah enam minggu tanpa kasus transmisi virus corona di masyarakat.




TERBARU

[X]
×