kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 16.813   14,00   0,08%
  • IDX 8.978   32,92   0,37%
  • KOMPAS100 1.240   7,91   0,64%
  • LQ45 876   5,00   0,57%
  • ISSI 325   1,22   0,38%
  • IDX30 445   1,18   0,27%
  • IDXHIDIV20 523   2,22   0,43%
  • IDX80 138   0,94   0,69%
  • IDXV30 145   0,82   0,57%
  • IDXQ30 142   0,04   0,03%

AS dan Venezuela Sepakati Ekspor Minyak hingga US$ 2 Miliar


Rabu, 07 Januari 2026 / 14:35 WIB
AS dan Venezuela Sepakati Ekspor Minyak hingga US$ 2 Miliar
ILUSTRASI. Amerika Serikat dan Venezuela mencapai kesepakatan untuk mengekspor minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat dengan nilai hingga US$ 2 miliar. (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - HOUSTON/WASHINGTON. Amerika Serikat dan Venezuela mencapai kesepakatan untuk mengekspor minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat dengan nilai hingga US$ 2 miliar.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut pada Selasa (6/1), menandai langkah negosiasi besar yang berpotensi mengalihkan pasokan minyak Venezuela dari China sekaligus membantu Caracas menghindari pemangkasan produksi yang lebih dalam.

Kesepakatan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah Venezuela merespons tuntutan Trump agar membuka sektor migasnya bagi perusahaan-perusahaan energi AS.

Trump sebelumnya menegaskan bahwa Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez harus memberikan “akses penuh” kepada Amerika Serikat dan perusahaan swasta terhadap industri minyak Venezuela, atau menghadapi tekanan militer lebih lanjut.

Sejak pertengahan Desember, Venezuela memiliki jutaan barel minyak yang tertahan di kapal tanker dan tangki penyimpanan akibat blokade ekspor yang diberlakukan pemerintahan Trump. Blokade tersebut merupakan bagian dari eskalasi tekanan AS terhadap pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang berpuncak pada penangkapannya oleh pasukan AS akhir pekan lalu.

Baca Juga: Venezuela Ekspor 113 Ton Emas ke Swiss Senilai US$5,2 Miliar pada Masa Maduro

Sejumlah pejabat tinggi Venezuela mengecam penangkapan Maduro sebagai tindakan penculikan dan menuding AS berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.

30–50 Juta Barel Minyak Diserahkan ke AS

Trump menyatakan Venezuela akan “menyerahkan” sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak yang dikenai sanksi kepada Amerika Serikat.

“Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan dana hasil penjualannya akan dikendalikan oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tulis Trump dalam unggahan media sosial.

Trump menunjuk Menteri Energi AS Chris Wright untuk mengeksekusi kesepakatan tersebut. Minyak akan diambil langsung dari kapal-kapal tanker dan dikirim ke pelabuhan AS.

Dua sumber industri menyebutkan bahwa untuk merealisasikan pengiriman awal, kargo minyak yang sebelumnya ditujukan ke China kemungkinan besar akan dialihkan ke AS. China selama satu dekade terakhir menjadi pembeli terbesar minyak Venezuela, terutama setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan yang terlibat perdagangan minyak Venezuela pada 2020.

“Trump ingin ini terjadi secepat mungkin agar bisa diklaim sebagai kemenangan besar,” ujar seorang sumber industri minyak.

Hingga kini, pejabat pemerintah Venezuela dan perusahaan minyak negara PDVSA belum memberikan komentar resmi.

Chevron Kendalikan Aliran Minyak Venezuela ke AS

Harga minyak mentah AS turun lebih dari 1,5% setelah pengumuman Trump, seiring ekspektasi peningkatan pasokan minyak Venezuela ke pasar AS.

Saat ini, aliran minyak Venezuela ke Amerika Serikat sepenuhnya dikendalikan oleh Chevron, mitra utama PDVSA dalam usaha patungan, berdasarkan izin khusus dari pemerintah AS.

Chevron mengekspor sekitar 100.000–150.000 barel per hari (bpd) minyak Venezuela ke AS dan menjadi satu-satunya perusahaan yang terus memuat dan mengirim minyak tanpa gangguan dalam beberapa pekan terakhir, meski ada blokade.

Baca Juga: Trump Ultimatum Venezuela: Usir China–Rusia, Minyak Hanya untuk Amerika!

Namun, belum jelas apakah Venezuela akan memperoleh akses terhadap hasil penjualan minyak tersebut. Sanksi AS membuat PDVSA terisolasi dari sistem keuangan global, rekening banknya dibekukan, serta dilarang melakukan transaksi dalam dolar AS.

Venezuela saat ini menjual minyak andalannya, Merey, dengan diskon sekitar US$ 22 per barel dari harga Brent untuk pengiriman di pelabuhan Venezuela. Dengan skema ini, nilai kesepakatan diperkirakan mencapai US$ 1,9 miliar.

Presiden interim Delcy Rodriguez sendiri masih berada di bawah sanksi AS sejak 2018 karena dituduh merusak demokrasi di Venezuela.

Opsi Lelang dan Lisensi untuk Pembeli AS

Dalam pembicaraan pekan ini, pejabat Venezuela dan AS juga membahas mekanisme penjualan minyak, termasuk opsi lelang agar pembeli AS dapat mengajukan penawaran, serta penerbitan lisensi AS bagi mitra bisnis PDVSA.

Lisensi semacam itu sebelumnya memungkinkan mitra dan pelanggan PDVSA—seperti Chevron, Reliance Industries (India), China National Petroleum Corporation (CNPC), Eni (Italia), dan Repsol (Spanyol)—untuk mengakses minyak Venezuela, baik untuk diolah maupun dijual kembali.

Dua sumber terpisah menyebutkan bahwa sejumlah perusahaan tersebut telah mulai bersiap menerima kargo minyak Venezuela kembali. Selain itu, AS dan Venezuela juga mendiskusikan kemungkinan penggunaan minyak Venezuela untuk Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS di masa depan, meski Trump tidak menyinggung hal tersebut secara terbuka.

AS Sebut Peningkatan Ekspor sebagai Kabar Baik

Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum menyebut peningkatan aliran minyak berat Venezuela ke kawasan Teluk Meksiko sebagai “kabar baik” bagi keamanan lapangan kerja, stabilitas harga bensin AS, dan perekonomian Venezuela.

Baca Juga: Pasca Maduro, AS Bidik Kepala Keamanan Venezuela sebagai Target Potensial

“Venezuela kini memiliki peluang untuk mendapatkan modal, membangun kembali ekonominya, dan memanfaatkan kemitraan dengan Amerika,” ujar Burgum kepada Fox News.

“Dengan teknologi dan kemitraan Amerika, Venezuela bisa bertransformasi,” tambahnya.

Sebelum sanksi energi pertama kali diberlakukan, kilang-kilang minyak di Pantai Teluk AS mengimpor sekitar 500.000 bpd minyak Venezuela. Sementara itu, PDVSA telah memangkas produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan akibat embargo. Tanpa jalur ekspor baru, pemangkasan produksi lanjutan hampir tak terhindarkan.

Pelaku pasar bereaksi cepat atas kabar kesepakatan tersebut. Selisih harga (differential) beberapa jenis minyak berat di kawasan Teluk AS turun sekitar US$ 0,50 per barel, mencerminkan antisipasi meningkatnya pasokan minyak Venezuela ke pasar Amerika Serikat.

Selanjutnya: UU APBN 2026 Belum Terbit, Belanja Awal Tahun Berisiko Terancam

Menarik Dibaca: 5 Olahraga untuk Mengencangkan Payudara Kendur, Bisa Dilakukan di Rumah!




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×