Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - HOUSTAN. Kilang minyak Amerika Serikat (AS) mulai kembali menyerap minyak mentah Venezuela. Valero Energy dan Phillips 66 dilaporkan telah membeli masing-masing satu kargo minyak mentah dari negara tersebut, menandai transaksi awal dalam skema baru ekspor Venezuela ke AS.
Dari laporan Reuters (22/1), dua sumber perdagangan menyebutkan, kedua perusahaan itu membeli minyak mentah melalui rumah dagang Vitol untuk dikirim ke wilayah U.S. Gulf Coast. Harga transaksi disepakati dengan diskon sekitar US$ 8,50 hingga US$ 9,50 per barel terhadap harga acuan Brent.
Langkah ini menjadi bagian dari kesepakatan antara Washington dan Caracas yang membuka kembali keran ekspor minyak Venezuela ke AS dengan kuota hingga 50 juta barel. Vitol dan Trafigura tercatat sebagai dua perusahaan pertama yang memperoleh lisensi dari pemerintah AS untuk memperdagangkan minyak mentah Venezuela setelah perubahan rezim di negara tersebut pada awal Januari.
Baca Juga: Saham Chevron dan Kilang Minyak AS Melonjak Usai Trump Bidik Minyak Venezuela
Sebelumnya, Valero dan Phillips 66 memang sudah mengolah minyak Venezuela lewat kerja sama dengan Chevron. Namun, transaksi terbaru ini menjadi pembelian langsung pertama dari rumah dagang yang baru memperoleh izin ekspor bulan ini.
Sumber yang sama menyebutkan, Vitol dan Trafigura membeli minyak Venezuela dengan diskon sekitar US$ 15 per barel terhadap Brent. Menteri Energi AS Chris Wright juga mengonfirmasi bahwa penjualan awal minyak mentah berat Venezuela senilai sekitar US$ 500 juta dinegosiasikan dengan diskon di kisaran tersebut.
Dari sisi biaya, rumah dagang harus menanggung ongkos pengiriman ke U.S. Gulf Coast yang berkisar US$ 2,5 hingga US$ 3,5 per barel, tergantung ukuran kapal. Dengan struktur harga ini, margin yang dikantongi diperkirakan hanya sekitar US$ 2 hingga US$ 4 per barel.
Minat pasar terhadap minyak Venezuela masih terbilang terbatas. Penawaran minyak berat andalan Venezuela, Merey, ke kilang-kilang AS sempat dibuka dengan diskon US$ 6 hingga US$ 7,50 per barel, namun kemudian harus diperdalam karena respons yang minim. Penawaran ke India di kisaran diskon US$ 8 hingga US$ 8,50 per barel juga belum membuahkan hasil signifikan.
Baca Juga: Gaza, Venezuela, Greenland: Jejak Kebijakan Global Trump Beraroma Imperialisme













