Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Cuaca ekstrem membayangi puncak peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat (AS) yang digelar di National Mall, Washington, Sabtu (4/7/2026).
Ancaman badai petir memaksa aparat mengevakuasi ribuan pengunjung dari area terbuka beberapa jam sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan tampil dalam acara utama.
Otoritas meminta massa meninggalkan kawasan National Mall dan berlindung di lokasi yang lebih aman setelah sistem badai bergerak memasuki wilayah Washington pada Sabtu malam.
Dinas Rahasia AS (Secret Service) juga menghentikan sementara akses masuk melalui pos pemeriksaan keamanan.
Baca Juga: Vietnam dan Filipina Jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas Versi Bank Dunia
Hingga beberapa saat sebelum acara dimulai, belum dipastikan apakah kondisi cuaca akan memengaruhi penampilan Trump yang dijadwalkan berlangsung pukul 22.00 waktu setempat. Sebelumnya, Trump menyebut acara tersebut sebagai "reli Trump paling spektakuler."
Selain ancaman badai, pengunjung juga harus menghadapi suhu ekstrem yang mencapai 39 derajat Celsius. Gelombang panas yang memecahkan rekor itu membuat sejumlah parade dan agenda perayaan Hari Kemerdekaan AS di wilayah Washington terpaksa dibatalkan.
Perayaan tahun ini juga diwarnai kehadiran kelompok nasionalis kulit putih Patriot Front. Ratusan anggotanya terlihat menuju ibu kota menggunakan kereta Metro. Meski demikian, kepolisian setempat menyatakan tidak menerima laporan adanya aksi kekerasan.
Berbeda dengan tradisi para presiden AS sebelumnya yang umumnya tidak menghadiri langsung perayaan 4 Juli, Trump menjadikan momentum peringatan 250 tahun kemerdekaan sebagai ajang yang menyerupai kampanye politik.
Pemerintahannya melalui organisasi Freedom 250 mengambil peran utama dalam penyelenggaraan acara, menggantikan sebagian besar fungsi badan nonpartisan yang dibentuk sejak 2016 untuk menyiapkan peringatan bersejarah tersebut.
Sebagian besar kawasan National Mall ditutup untuk penyelenggaraan Great American State Fair, yang menghadirkan berbagai wahana hiburan, pameran kelompok konservatif, hingga perusahaan kontraktor pertahanan.
Baca Juga: Trump Tawarkan Bantuan Akhiri Perang Ukraina dalam Percakapan dengan Putin
Freedom 250 menyatakan kegiatan itu bertujuan menampilkan masyarakat dan inovasi yang menjadikan AS sebagai "negara terbesar di dunia".
Namun, penyelenggaraan perayaan tidak lepas dari kontroversi.
Sejumlah negara bagian yang dipimpin Partai Demokrat memilih tidak mengirim delegasi, sementara beberapa pengisi acara membatalkan keikutsertaan karena menilai perayaan tersebut terlalu bernuansa politik.
Meski sempat sepi pada awal penyelenggaraan, jumlah pengunjung meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Antrean masuk membentang hingga beberapa blok, sementara museum, toko suvenir, dan restoran di kompleks Smithsonian mencatat penjualan mendekati rekor.
Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Guncang St. Petersburg, Infrastruktur Minyak Disasar
Di sisi lain, jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan mayoritas warga AS menilai perayaan 250 tahun kemerdekaan telah menjadi terlalu politis.
Pendapat itu disampaikan oleh sekitar tiga perempat pendukung Partai Demokrat dan separuh pemilih Partai Republik.














