Sumber: BBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
MANILA. Badai Koppu menyapu Filipina bagian utara. Akibatnya, rumah-rumah hancur, tiang listrik roboh, dan ribuan orang harus meninggalkan rumahnya.
Badai berkekuatan dahsyat ini mulai bergerak di dekat kota Casiguran, Pulau Luzon, pada Minggu (18/10) pagi.
Kekuatan angin Koppu disebut-sebut mendekati 200 km/jam (124 mph) dan semakin kencang mendekati daerah pantai.
Sementara itu, hujan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut menyebabkan banjir besar dan kemungkinan tanah longsor.
Alexander Pama, kepala pemerintahan badan penanggulangan bencana Filipina menyebut, 10.000 orang telah diungsikan dari wilayah utara Luzon. Namun, hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan yang terjadi.
"Kami mendapatkan laporan bahwa banyak rumah yang hancur, tiang listrik rubuh dan pohon-pohon tumbang menghalangi jalanan utama," jelasnya.
Dampak lainnya, jasa penerbangan dan kapal ferry di bagian utara pun dibatalkan. Bahkan, sejumlah layanan bus di daerah pegunungan ditunda akibat ancaman tanah longsor.
Pada Jumat (16/10) lalu, melalui siaran televisi, Presiden Filipinan Benigno Aquino mengingatkan akan ancaman badai ini. Ini kali pertama yang dilakukan Aquino sejak musibah Badai Haiyan pada 2013 lalu yang menewaskan sekitar 6.300 orang.
Badai Koppu, yang juga dikenal dengan Lando, diperkirakan akan meninggalkan Filipina pada Selasa (20/10) mendatang dan mengarah ke Taiwan.













