Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah pegunungan Himalaya di Nepal dan Tibet, China, setelah longsoran es, lumpur, dan batuan runtuh ke sungai.
Bencana ini menewaskan sedikitnya ratusan orang dan membuat lebih dari 1.000 orang masih dinyatakan hilang.
Tim penyelamat terus menyisir lembah dan lereng yang dipenuhi puing pada Kamis (27/8/2026).
Otoritas Nepal memperkirakan jumlah korban tewas masih akan bertambah karena sejumlah jenazah terseret arus hingga ke dataran rendah.
Fokus utama saat ini adalah menemukan korban yang masih selamat. Pemerintah Nepal mengerahkan lebih dari 5.000 personel militer dan polisi, sementara helikopter digunakan untuk mencari korban sekaligus mengirim makanan, tenda, dan bantuan darurat ke wilayah yang terisolasi.
Baca Juga: Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal, Desa dan Proyek Pembangkit Listrik Hanyut
"Itu seperti semburan lumpur raksasa yang langsung datang ke arah kami," kata Keshav Prasad Baral, 68 tahun, salah satu korban selamat.
Baral mengatakan dirinya sempat berusaha menyelamatkan istrinya ketika lumpur mulai menerjang rumah mereka. Namun, sang istri terseret arus dan hingga kini belum ditemukan.
Di Nepal, sedikitnya 100 warga negara India yang sebelumnya dilaporkan hilang telah ditemukan, bersama 25 pekerja asal China.
Meski demikian, lebih dari 650 warga negara asing lainnya masih belum diketahui keberadaannya. Jumlah warga Nepal yang hilang juga masih dalam pendataan.
Sementara itu, otoritas China melaporkan 558 orang masih hilang di Gyirong County, Tibet, termasuk sekitar 260 warga negara asing. Korban tewas di wilayah China tercatat tiga orang.
Korban dan orang yang masih hilang berasal dari lebih dari dua lusin negara. Selain warga India, terdapat warga Amerika Serikat, Malaysia, Australia, Inggris, Kanada, dan sejumlah negara lainnya.
Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Nepal dan Tibet, Hampir 1.500 Orang Hilang
Bencana terjadi di jalur yang menghubungkan Kathmandu di Nepal dengan Lhasa di Tibet.
Kawasan tersebut juga menjadi jalur penting bagi wisatawan dan peziarah yang menuju Kailash Mansarovar, lokasi suci bagi umat Hindu dan Buddha.
Ganesh Aryal, administrator Distrik Chitwan, mengatakan 103 jenazah telah ditemukan dari aliran sungai di wilayahnya yang berjarak sekitar 100 kilometer dari kawasan terparah di Trishuli.
Karena rumah sakit setempat tidak mampu menampung seluruh jenazah, pemerintah daerah menyiapkan tenda untuk proses penanganan dan identifikasi korban.
Jenazah yang tidak dapat segera dikenali akan menjalani tes DNA. Pemerintah Nepal juga menyiapkan fasilitas bagi keluarga korban yang datang untuk mencari anggota keluarga mereka.
Di sisi lain perbatasan, Perdana Menteri China Li Qiang mendatangi kawasan Gyirong pada Kamis. Kunjungan mendadak tersebut menunjukkan bahwa pemerintah China menempatkan bencana ini sebagai prioritas tinggi.
Upaya penyelamatan juga menghadapi ancaman baru. Otoritas China mengidentifikasi adanya danau yang terbendung material longsoran di kawasan hulu. Volume air di danau tersebut diperkirakan mencapai 2 juta meter kubik dan telah meluap.
Baca Juga: Banjir Bandang di Vietnam Tewaskan Empat Orang, Empat Lainnya Masih Hilang
Dalam tiga hari ke depan, sekitar 3 juta meter kubik air tambahan diperkirakan masuk ke danau tersebut. Kondisi itu meningkatkan risiko jebolnya bendungan alami dan memicu banjir susulan, terutama karena hujan masih diperkirakan turun.
Bencana kali ini juga mengingatkan pada kejadian serupa pada Juli tahun lalu ketika jebolnya danau di atas Gletser Purepa di Tibet memicu banjir mematikan di Nepal.














