kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.784   43,00   0,24%
  • IDX 6.510   104,34   1,63%
  • KOMPAS100 847   13,66   1,64%
  • LQ45 640   7,31   1,16%
  • ISSI 229   4,18   1,86%
  • IDX30 357   3,48   0,98%
  • IDXHIDIV20 436   3,88   0,90%
  • IDX80 96   1,46   1,53%
  • IDXV30 122   1,66   1,39%
  • IDXQ30 113   0,84   0,74%

Banjir Bandang Nepal Diduga Dipicu Runtuhnya Gletser


Kamis, 27 Agustus 2026 / 14:42 WIB
Banjir Bandang Nepal Diduga Dipicu Runtuhnya Gletser
ILUSTRASI. Banjir bandang mematikan yang terjadi di dekat perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026) diduga dipicu runtuhnya bagian bawah gletser (REUTERS/Navesh Chitrakar)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Banjir bandang mematikan yang terjadi di dekat perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026) diduga dipicu runtuhnya bagian bawah gletser yang kemudian jatuh ke dasar lembah ratusan meter di bawahnya.

Dugaan tersebut muncul berdasarkan analisis citra satelit Planet Labs yang ditinjau Reuters. Para ahli menyebut runtuhnya gletser kemungkinan membawa material batuan dan sedimen dalam jumlah besar sehingga memicu aliran debris dan banjir bandang.

Namun, penyebab pasti runtuhnya gletser masih belum diketahui. Pejabat Nepal sebelumnya menyebut gempa bumi di wilayah tersebut sebagai salah satu kemungkinan pemicu. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) kemudian menyatakan getaran yang dilaporkan sebenarnya merupakan energi seismik yang dihasilkan oleh runtuhnya batuan dan es gletser, yang diikuti aliran material.

Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah. Hingga kini, hampir 170 jenazah telah ditemukan, sementara sekitar 1.500 orang masih dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 700 orang merupakan warga negara asing.

Citra satelit sebelum dan sesudah bencana yang dianalisis Reuters menunjukkan perubahan drastis di wilayah terdampak. Lereng pegunungan yang sebelumnya hijau kini tertutup material berwarna cokelat berupa debris dan sedimen.

Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina dengan 258 Drone dan Rudal, Kyiv-Odesa Jadi Sasaran

"Telah dikonfirmasi bahwa sebagian besar bagian ujung gletser runtuh untuk memulai peristiwa tersebut - kemungkinan membawa atau menyeret sejumlah besar batuan dan sedimen," kata Vikram Gupta, spesialis geologi teknik dan pengajar di Sikkim University, India.

Gletser Diduga Mengalami Pencairan Cepat

Ilmuwan bumi sekaligus profesor madya di University of Calgary, Dan Shugar, mengatakan citra satelit menunjukkan kemungkinan terjadi pencairan salju dalam jumlah besar dalam 24 jam sebelum bencana.

"Beberapa gletser di lembah tersebut tertutup salju kemarin dan hari ini sebagian besar sudah menjadi es terbuka. Dengan kata lain, dan saya belum melihat data dari stasiun cuaca, kemungkinan cuacanya hangat," ujar Shugar.

Menurut Shugar, citra satelit pagi hari menunjukkan bagian bawah sebuah gletser runtuh pada ketinggian sekitar 5.200 meter. Material tersebut kemudian jatuh ke dasar lembah yang berada sekitar 1.200 meter lebih rendah.

"Apa yang dapat saya lihat dalam citra satelit Planet Labs pagi ini, bagian bawah gletser runtuh pada ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh ke dasar lembah sekitar 1.200 meter di bawahnya," kata Shugar.

Ia menambahkan, aktivitas pembangunan juga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diteliti. Sementara itu, kemungkinan perubahan iklim berperan dalam peristiwa tersebut juga akan menjadi bahan kajian lebih lanjut.

Baca Juga: Ini Penyebab Banjir Bandang Mematikan di Nepal Menurut Para Ahli

"Apakah perubahan iklim berperan merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi akan kita kaji dalam waktu dekat," katanya.

Perubahan Iklim Jadi Perhatian

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan pegunungan Nepal mengalami pencairan gletser dalam beberapa dekade terakhir.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2023 menyebut pegunungan Nepal yang tertutup salju telah kehilangan hampir sepertiga volume esnya hanya dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun akibat pemanasan global.

PBB juga menyatakan bahwa gletser di Nepal mencair 65% lebih cepat dalam satu dekade terakhir dibandingkan periode sebelumnya. Nepal berada di antara dua negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia, yakni India dan China.

Chief Impact Officer Planet, Andrew Zolli, mengatakan perusahaannya akan segera merilis citra satelit yang lebih lengkap dengan lisensi terbuka untuk membantu upaya penanganan bencana di lapangan.

"Analisis Dan menunjukkan bahwa ini mungkin merupakan akibat dari runtuhnya gletser akibat pencairan yang cepat," tulis Zolli di LinkedIn.

"Apakah hal tersebut pada akhirnya memiliki kaitan dengan iklim merupakan sesuatu yang saya yakin akan mendapat perhatian dalam beberapa hari mendatang," lanjutnya.

Banjir Bandang Dipicu Longsoran Es dan Batuan

Otoritas Nepal menyebut bencana tersebut sebagai banjir yang melibatkan gletser. National Disaster Risk Reduction and Management Authority Nepal mengatakan banjir terjadi di Sungai Lhende setelah longsor yang berlangsung sekitar 20 kilometer di timur laut perlintasan perbatasan Nepal-China.

Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Nepal dan Tibet, Hampir 1.500 Orang Hilang

"Longsoran es-batuan di sisi Nepal menyebabkan banjir bandang tersebut," kata Prakash Pokharel, ahli geologi pada lembaga tersebut yang telah meninjau citra Planet Labs.

Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air juga berada di kawasan yang terdampak paling parah di Distrik Rasuwa. Wilayah pegunungan tersebut memiliki populasi sekitar 50.000 orang.

International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menyatakan bencana seperti banjir, tanah longsor, longsoran salju, dan kekeringan semakin sering terjadi serta semakin parah di kawasan Hindu Kush Himalaya.

Perubahan yang semakin cepat terhadap kondisi air, tanah, dan udara di kawasan tersebut dinilai menjadi ancaman besar bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Menurut ICIMOD, banjir bandang kali ini membawa gelombang air, sedimen, dan bongkahan batu melalui sistem Sungai Bhote Koshi dan Trishuli.

Di wilayah Galchhi yang berada di bagian hilir, ketinggian air sungai dilaporkan meningkat hingga sekitar sembilan meter hanya dalam waktu 30 menit.

Peristiwa tersebut menunjukkan besarnya risiko bencana hidrometeorologi dan geologi yang dihadapi kawasan Himalaya, terutama ketika pencairan es, kondisi pegunungan yang tidak stabil, serta potensi perubahan iklim saling berinteraksi.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×