Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Malaysia sudah memulai penguncian (lockdown) ketat selama dua minggu mulai Selasa (1/6/2021). Sebelum hal tersebut diberlakukan, negeri jiran itu mengalami pembelian secara panik (panic buying) di sejumlah supermarket. Lockdown ketat dilakukan karena kasus Covid-19 harian per kapita di sana melonjak melampaui India.
Melansir Reuters, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengumumkan paket bantuan darurat senilai US$ 9,7 miliar sehari sebelumnya, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas perawatan kesehatan dan memberikan moratorium pinjaman, hibah untuk usaha kecil dan subsidi untuk gaji.
Perekonomian Malaysia sebelumnya berada di jalur menuju pemulihan pada kuartal pertama. Namun kemudian, infeksi Covid-19 kembali melonjak.
Produsen mobil besar seperti Toyota dan Honda mengumumkan pada Selasa (1/6/2021) bahwa mereka akan menghentikan sementara produksi di Malaysia karena penguncian baru, yang hanya akan memungkinkan manufaktur penting dan sektor jasa untuk melanjutkan operasi.
Baca Juga: Kasus harian COVID-19 Malaysia bisa mencapai 13.000, jika hal ini terjadi
Reuters memberitakan, seorang juru bicara Toyota mengatakan, pihaknya akan menangguhkan penjualan dan produksi mulai Selasa. Dia menambahkan bahwa perusahaan belum memutuskan kapan produksi akan dilanjutkan. Informasi saja, Toyota memproduksi sekitar 51.000 kendaraan di Malaysia tahun lalu
Anak perusahaan Toyota, Daihatsu Motor, juga akan menghentikan produksi antara 1 dan 14 Juni, kata seorang juru bicara. Anak perusahaan itu memproduksi sekitar 220.000 kendaraan di Malaysia pada tahun 2020.
Baca Juga: Malaysia lockdown, pabrik Toyota dan Honda berhenti beroperasi
Sementara itu, juru bicara Honda mengatakan pihaknya juga akan menutup sementara dua pabrik selama penguncian. Pabrik ini, yang setiap tahun memproduksi sekitar 100.000 mobil dan 300.000 sepeda motor, diharapkan dapat melanjutkan produksi mulai 15 Juni, katanya.
Sebelumnya, Malaysia telah mencoba untuk meningkatkan kampanye vaksinasinya. Akan tetapi, kurang dari 6% warga Malaysia yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin - hampir setengah dari proporsi di India.
Lonjakan kasus Covid-19 di Malaysia mencerminkan tren yang mengkhawatirkan di seluruh Asia Tenggara, di mana negara-negara berjuang untuk memerangi peningkatan kasus dan lambatnya peluncuran program vaksinasi.
Negara-negara seperti Thailand dan Vietnam telah mendapat pujian karena berhasil menahan gelombang virus sebelumnya.
Namun, Thailand telah mencatatkan angka kematian Covid-19 meningkat sepuluh kali lipat selama dua bulan terakhir. Sedangkan pejabat Vietnam mendeteksi kombinasi yang lebih menular dari varian Inggris dan India selama akhir pekan.













