kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Benarkah resesi AS akan segera terjadi? Penasihat ekonomi Trump mulai cemas


Rabu, 04 September 2019 / 08:51 WIB
Benarkah resesi AS akan segera terjadi? Penasihat ekonomi Trump mulai cemas
ILUSTRASI. Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping saat KTT G20

Sumber: CNBC,New York Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Ketiga, laba perusahaan

Estimasi pertumbuhan pendapatan perusahaan mengalami penurunan yang sangat drastis tahun ini. Data FacSet menunjukkan, pada Desember lalu, analis mengestimasi, indeks S&P 500 earnings growth untuk tahun ini berada di kisaran 7,6%. Angka itu sekarang berada di posisi 2,3%.

Strategist Goldman Sachs dan Citigroup pada bulan lalu memangkas estimasi pendapatan untuk S&P 500 untuk tahun 2019 dan 2020. Alasannya, kondisi ekonomi yang memburuk, ancaman perang dagang, dan adanya potensi devaluasi mata uang.

 Keempat, kontraksi manufaktur

Berdasarkan data CNBC, pertumbuhan manufaktur AS melambat ke level terendah dalam 10 tahun terakhir pada Agustus. Indeks manufaktur AS (Purchasing Manager's Index) berada di level 49,9 pada Agustus atau turun dari level 50,4 pada Juli. 

Baca Juga: Jika Singapura resesi, Indonesia bisa ketiban untung

Menurut IHS Markit, angka ini berada di level netral 50 untuk kali pertama sejak September 2009. Level di bawah 50 menunjukkan sinyal resesi. 

Pada Juli, anggota the Federal Reserve mengekspresikan kecemasannya mengenai sektor-sektor yang melemah seperti sektor manufaktur. Dalam hasil notulensi rapat the Fed bulan Juli, mereka bilang, perang dagang AS-China dan kecemasan mengenai pertumbuhan ekonomi, terus menggerus tingkat kepercayaan bisnis dan menghambat rencana modal kerja perusahaan. 

Kelima, harga emas

Harga emas sudah melejit lebih dari 20% sejak Mei saat hubungan dagang AS dan China semakin memanas. Sama dengan obligasi pemerintah, emas dikenal sebagai safe haven saat kondisi market penuh dengan ketidakpastian. 



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×