kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45764,61   -6,06   -0.79%
  • EMAS887.000 -1,88%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Benarkah resesi AS akan segera terjadi? Penasihat ekonomi Trump mulai cemas


Rabu, 04 September 2019 / 08:51 WIB
Benarkah resesi AS akan segera terjadi? Penasihat ekonomi Trump mulai cemas
ILUSTRASI. Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping saat KTT G20

Sumber: CNBC,New York Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Penasihat ekonomi Trump tidak melihat kemungkinan terjadinya resesi Amerika dalam waktu dekat. Namun, ada satu hal yang mereka cemaskan. Yakni, laporan data ekonomi AS yang muram dan munculnya sinyal-sinyal peringatan resesi dapat mengubah kecemasan menjadi kenyataan. 

Dalam sebuah interview dengan New York Times pada Kamis pekan lalu. Penasihat Ekonomi Donald Trump Tomas Philipson, mengatakan kepada reporter siapun pihak-pihak yang memunculkan peringatan mengenai tanda-tanda resesi di pasar obligasi pada bulan lalu adalah mereka yang ingin warga Amerika kehilangan lapangan pekerjaan dan tidak bisa mandiri. 

Baca Juga: Indeks manufaktur AS terkontraksi, Wall Street rontok

"Sebagai warga Amerika, Anda seharusnya tidak menginginkan adanya resesi, bagaimana pun pandangan politik Anda," kata Philipson. 

New York Times juga menulis, kian memanasnya perang dagang merupakan salah satu alasan mengapa investor, ekonom, dan publik AS sangat cemas akan kemungkinan terjadinya resesi. Adanya aksi balas membalas kenaikan tarif antara AS dan China menyebabkan tingkat investasi dan tingkat kepercayaan bisnis di Amerika melorot. Selain itu, pertumbuhan ekonomi global juga melambat. 

Meskipun demikian, warga Amerika tetap berbelanja dan terus mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan, anggaran belanja konsumen AS naik 4,7% secara tahunan di musim semi. Ini merupakan kenaikan kuartalan tercepat dalam hampir lima tahun terakhir. 

Baca Juga: Penasihat Beijing: China sudah melakukan berbagai cara, kini semua terserah Trump

Namun, ada satu tolak ukur dari sentimen konsumen yang mengalami penurunan terbesar sejak 2012. Data yang dirilis Jumat menunjukkan, hal yang menjadi kecemasan konsumen Amerika adalah tarif impor atau perang dagang. 

Hal inilah yang ingin dibenahi pemerintah AS saat ini. Untuk meningkatkan kembali tingkat kepercayaan konsumen, pemerintah AS kerap menyalahkan media, Demokrat dan The Fed sebagai pemicu perlambatan ekonomi. Trump, misalnya, menuding The Fed menetapkan suku bunga acuan terlalu tinggi sehingga daya saing perusahaan AS rendah dibanding negara lain. 

Baca Juga: Perang dagang makin sulit ditebak ujungnya

Selain itu, "Cara media melaporkan bagaimana kondisi ekonomi AS menekan sentimen konsumen, yang pada akhirnya mempengaruhi daya beli dan investasi konsumen," jelas Philipson kepada New York Times

Di luar semua itu, saat ini mayoritas warga merika Serikat memang mencemaskan perekonomian negara mereka akan jatuh ke jurang resesi. 

Melansir CNBC, sebagai salah satu indikasinya, hasil pencarian di Google seacrh menunjukkan, kecemasan akan resesi kian meningkat sejak akhir Juli lalu. Pada waktu itu, the Federal Reserve memangkas suku bunga acuan untuk kali pertama sejak terjadi krisis finansial. 

Berikut adalah lima indikator resesi utama yang mengeluarkan sinyal merah:

Pertama, Pasar obligasi

Hal yang paling banyak dibicarakan mengenai pasar obligasi adalah terjadinya kurva yield terbalik. 

Di tengah melorotnya suku bunga di pasar obligasi AS, tingkat yield untuk surat utang AS bertenor 10 tahun telah melorot di bawah yield surat utang bertenor 2 tahun. Kejadian ini berlangsung beberapa kali sejak 14 Agustus lalu. 

Baca Juga: Investor cenderung hati-hati, bursa Wall Street lesu di akhir pekan ini

Dalam market yang sehat, obligasi jangka panjang memberikan suku bunga yang lebih tinggi ketimbang obligasi jangka pendek. Nah, saat obligasi jangka pendet memberikan yield tinggi, inilah yang dinamakan kurva yield terbalik. 

Fenomena yang muncul di pasar obligasi ini memberikan sinyal resesi. CNBC mencatat, ada tujuh kali resesi yang ditandai dengan kurva yield terbalik. Menurut Credit Suisse, resesi akan terjadi rata-rata sekitar 22 bulan setelah terjadi kurva yield terbalik.

Kedua, Produk Domestik Bruto (PDB)

Tingkat PDB AS mengalami perlambatan. Data yang dirilis Departemen Perdagangan AS menunjukkan, ekonomi Negeri Paman Sam itu hanya tumbuh 2% pada kuartal dua.

Level 2% merupakan pertumbuhan terlambat sejak kuartal IV 2018 dan turun dari pertumbuhan 3% yang berhasil dicapai pada tiga bulan pertama tahun ini. 

Ketiga, laba perusahaan

Estimasi pertumbuhan pendapatan perusahaan mengalami penurunan yang sangat drastis tahun ini. Data FacSet menunjukkan, pada Desember lalu, analis mengestimasi, indeks S&P 500 earnings growth untuk tahun ini berada di kisaran 7,6%. Angka itu sekarang berada di posisi 2,3%.

Strategist Goldman Sachs dan Citigroup pada bulan lalu memangkas estimasi pendapatan untuk S&P 500 untuk tahun 2019 dan 2020. Alasannya, kondisi ekonomi yang memburuk, ancaman perang dagang, dan adanya potensi devaluasi mata uang.

 Keempat, kontraksi manufaktur

Berdasarkan data CNBC, pertumbuhan manufaktur AS melambat ke level terendah dalam 10 tahun terakhir pada Agustus. Indeks manufaktur AS (Purchasing Manager's Index) berada di level 49,9 pada Agustus atau turun dari level 50,4 pada Juli. 

Baca Juga: Jika Singapura resesi, Indonesia bisa ketiban untung

Menurut IHS Markit, angka ini berada di level netral 50 untuk kali pertama sejak September 2009. Level di bawah 50 menunjukkan sinyal resesi. 

Pada Juli, anggota the Federal Reserve mengekspresikan kecemasannya mengenai sektor-sektor yang melemah seperti sektor manufaktur. Dalam hasil notulensi rapat the Fed bulan Juli, mereka bilang, perang dagang AS-China dan kecemasan mengenai pertumbuhan ekonomi, terus menggerus tingkat kepercayaan bisnis dan menghambat rencana modal kerja perusahaan. 

Kelima, harga emas

Harga emas sudah melejit lebih dari 20% sejak Mei saat hubungan dagang AS dan China semakin memanas. Sama dengan obligasi pemerintah, emas dikenal sebagai safe haven saat kondisi market penuh dengan ketidakpastian. 



TERBARU

[X]
×