kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45786,44   -4,02   -0.51%
  • EMAS1.008.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.26%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.06%

Bentrokan terburuk Armenia-Azerbaijan sejak 2016 pecah, 16 orang tewas


Senin, 28 September 2020 / 05:31 WIB
Bentrokan terburuk Armenia-Azerbaijan sejak 2016 pecah, 16 orang tewas
ILUSTRASI. Sedikitnya 16 anggota militer dan beberapa warga sipil tewas pada hari Minggu (27/9/2020) dalam bentrokan terberat antara Armenia dan Azerbaijan sejak 2016. REUTERS/Denis Balibouse/File Photo


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - YEREVAN/BAKU. Sedikitnya 16 anggota militer dan beberapa warga sipil tewas pada hari Minggu (27/9/2020) dalam bentrokan terberat antara Armenia dan Azerbaijan sejak 2016. Perang ini menyalakan kembali kekhawatiran tentang stabilitas di Kaukasus Selatan, jalur koridor yang membawa minyak dan gas ke pasar dunia.

Melansir Reuters, bentrokan antara dua negara bekas republik Soviet yang berperang pada 1990-an, adalah gejolak terbaru dari konflik berkepanjangan di Nagorno-Karabakh. Ini merupakan wilayah memisahkan diri yang berada di dalam Azerbaijan, akan tetapi dijalankan oleh etnis Armenia.

Nagorno-Karabakh mengatakan, 16 prajuritnya telah tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka setelah Azerbaijan melancarkan serangan udara dan artileri Minggu pagi. Armenia dan Nagorno-Karabakh mengumumkan darurat militer dan memobilisasi penduduk laki-laki.

Azerbaijan, yang juga mengumumkan darurat militer, mengatakan pasukannya menanggapi penembakan Armenia dan bahwa lima anggota dari satu keluarga telah terbunuh oleh penembakan Armenia.

Baca Juga: Respons Rusia, Ukraina gelar latihan militer besar-besaran

Azerbaijan juga mengatakan pasukannya telah menguasai hingga tujuh desa. Nagorno-Karabakh awalnya membantahnya tetapi kemudian mengakui kehilangan "beberapa posisi" dan mengatakan telah menderita sejumlah korban sipil, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Bentrokan itu memicu desakan untuk diplomasi demi mengurangi ketegangan baru dalam konflik puluhan tahun antara mayoritas Kristen Armenia dan sebagian besar Muslim Azerbaijan. Rusia menyerukan gencatan senjata dan kekuatan regional lainnya, sedangkan Turki mengatakan akan mendukung Azerbaijan.

Reuters memberitakan, dalam sebuah pernyataan, Departemen Luar Negeri AS mengutuk kekerasan tersebut. AS menyerukan penghentian segera permusuhan dan retorika atau tindakan lain yang dapat memperburuk masalah.

Baca Juga: Rusia gelar latihan militer besar-besaran, Indonesia hadir sebagai pengamat?




TERBARU

[X]
×