Reporter: Dina Farisah | Editor: Tri Adi
Awalnya, Richard Li meraup harta lewat bisnis telekomunikasi PCCW. Seiring berjalannya waktu, Richard mulai mendiversifikasi bisnisnya. Pilihan anak bungsu miliarder Hong Kong Li Ka-Shing ini jatuh pada bisnis aset manajemen. Aksi perdana Richard yang merebut perhatian pasar adalah ketika dirinya mengakuisisi AIG Investment senilai US$ 500 juta pada Desember 2009. Pasca-akuisisi, Richard mengganti nama AIG menjadi PineBridge Investments.
Mengawali peruntungan dengan berbisnis telekomunikasi, tangan dingin Richard Li ternyata paling cocok mengasuh bisnis investasi. Kendati begitu, di masa awal membangun bisnis perusahaan investasi, Richard harus mengalami pasang surut.
Jejak Richard di panggung bisnis Hong Kong dimulai pada tahun 2003 dengan mendirikan PCCW. Ini merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar di Hong Kong milik Richard yang sempat melaporkan kerugian sebesar HK$ 6,1 miliar di tahun perdana.
Kinerja yang buruk membuat kinerja saham PCCW juga lesu. Selama enam tahun berturut-turut, saham PCCW tak mampu mengalahkan performa indeks.
Ketika keadaan mulai membaik, barulah pada tahun 2007 PCCW mengumumkan rencana pembayaran dividen untuk menyenangkan hati investor. Selain dividen, Richard juga memberikan bonus kepada jajaran direksi.
Tahun 2007, saham PCCW mulai rebound dengan membukukan return 4,02% di level HK$ 4,92 dollar. Performa ini mampu menyalip indeks Hang Seng yang hanya menorehkan return 3,35% pada periode yang sama.
Meski demikian, PCCW merupakan pemain terburuk di antara semua penghuni indeks Hang Seng sejak Februari 2001. Berdasarkan data Bloomberg, selama periode 2001 hingga 2007, saham PCCW ambles 80%.
Richard bilang, dalam situasi memprihatinkan, perhitungan bonus mengacu pada indikator kinerja. Jajaran direksi hanya mendapatkan jatah 50% bonus.
Setelah terpuruk selama tujuh tahun, PCCW mulai menunjukkan perbaikan kinerja dan berada di atas performa indeks Hang Seng. Richard berhasil membawa PCCW keluar dari krisis lewat diversifikasi bisnis.
Anak bungsu taipan Li Ka-Shing ini mengakuisisi perusahaan aset manajemen American International Group Inc (AIG). Richard membeli AIG Investment senilai US$ 500 juta pada Desember 2009, melalui Pacific Century Group.
Sejatinya, Richard telah mengincar AIG sejak bisnis aset manajemen ini terpukul krisis global yang berujung pada paket penyelamatan (bailout) Pemerintah Amerika Serikat. Hampir 80% saham AIG telah dimiliki Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Di tengah situasi genting, Richard mengambil peluang emas dengan membeli aset AIG Investment. Namun, Richard harus bersaing dengan sejumlah investor lain yang juga memburu aset AIG.
Kala itu, Pemerintah AS memakai skema lelang untuk menjual aset AIG Investment. Sejumlah calon investor di antaranya Macquarie Group Ltd dan Religare Enterprises Ltd dari India.
Agar memenangkan lelang, Richard masuk dalam konsorsium yang dipimpin perusahaan investasi Franklin Templeton pada Juni 2009. Sayangnya, kongsi ini terputus di tengah jalan.
Meski demikian, Richard tetap bisa mengejar sendiri dan melanjutkan negosiasi. Kendati hanya berbekal pengalaman minim soal bisnis aset manajemen, Richard menjadi salah satu kandidat terkuat lantaran Pacific Group memiliki kas tebal.
Menurut Richard, ambisinya mencaplok AIG lantaran bisa menambah nilai jual Pacific Century melalui jaringan bisnis AIG di seluruh dunia, khususnya di Asia. Pasca akuisisi, Richard mengganti nama AIG Investment menjadi PineBridge Investment.
Pada 31 Desember 2011, PineBridge mengelola dana investasi mencapai US$ 70 miliar. Saat ini PineBridge Investment memiliki lebih dari 800 karyawan di seluruh jaringan global.
Di Indonesia, PineBridge dan Farallon sempat berkongsi untuk membeli AAA Asset Management sekitar Rp 225 miliar pada akhir tahun lalu.
(Bersambung)













