kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.888.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.160   3,00   0,02%
  • IDX 7.698   74,08   0,97%
  • KOMPAS100 1.066   9,80   0,93%
  • LQ45 766   5,76   0,76%
  • ISSI 280   2,73   0,98%
  • IDX30 407   3,24   0,80%
  • IDXHIDIV20 492   2,76   0,57%
  • IDX80 119   1,00   0,84%
  • IDXV30 139   0,86   0,62%
  • IDXQ30 130   0,83   0,64%

Bisnis Suku Bunga Goldman Sachs Tertekan Volatilitas Perang Iran


Kamis, 16 April 2026 / 08:02 WIB
Bisnis Suku Bunga Goldman Sachs Tertekan Volatilitas Perang Iran
ILUSTRASI. GOLDMAN SACHS ( REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bisnis perdagangan suku bunga milik Goldman Sachs dilaporkan mengalami kerugian pada sejumlah posisi menjelang akhir kuartal I-2026.

Hal ini dipicu lonjakan volatilitas pasar obligasi akibat konflik dengan Iran, yang memaksa bank tersebut menahan sejumlah posisi sebagai market maker, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut dilansir Reuters Kamis (16/4/2026).

Baca Juga: Bank Sentral Thailand Pangkas Proyeksi Ekonomi 2026, Perang Iran Picu Risiko Terburuk

Divisi fixed income, currencies and commodities (FICC) bank investasi asal Wall Street itu mencatat penurunan pendapatan sebesar 10% menjadi US$ 4,01 miliar pada kuartal pertama.

Kinerja tersebut tertekan oleh perlambatan aktivitas perdagangan suku bunga, kredit, dan produk berbasis hipotek.

Sebaliknya, para pesaing utama mencatat kinerja lebih solid. JPMorgan Chase membukukan lonjakan pendapatan dari pasar fixed income sebesar 21% menjadi US$ 7,1 miliar.

Sementara itu, Citigroup dan Morgan Stanley juga mencatat pertumbuhan kuat, sedangkan Bank of America meraih kenaikan moderat.

Baca Juga: Pentagon Gandeng GM hingga Ford, Dorong Industri Sipil Perkuat Produksi Senjata

Sumber tersebut enggan disebutkan namanya karena penyebab lemahnya kinerja FICC Goldman tidak diungkap secara publik, meski sebelumnya telah dilaporkan oleh Financial Times.

Sebagai salah satu market maker global utama, Goldman Sachs berperan menyediakan likuiditas serta kuotasi harga beli dan jual di berbagai instrumen, mulai dari saham, FICC, hingga derivatif.

Presiden Goldman Sachs John Waldron menegaskan bahwa pihaknya tidak khawatir terhadap kinerja bisnis FICC meskipun hasil kuartalan mengecewakan.

“Dalam kondisi tertentu, pasar bisa bergerak tidak sesuai ekspektasi. Namun pada akhirnya, Anda tetap harus menutup buku di akhir kuartal dan melaporkan hasilnya,” ujarnya dalam sebuah konferensi di Washington.

Ia menambahkan, dalam jangka panjang, bisnis FICC Goldman tetap kuat dan tidak menjadi kekhawatiran utama.

Baca Juga: Negara Berkembang Rilis “Borrowers’ Platform”, Perkuat Posisi Negosiasi Utang Global

Sepanjang kuartal pertama, pasar mata uang dan obligasi mengalami lonjakan volatilitas signifikan seiring konflik dengan Iran yang memicu guncangan energi.

Kondisi ini memaksa investor meninjau ulang ekspektasi sebelumnya bahwa bank sentral utama akan mulai memangkas suku bunga tahun ini.

Lonjakan harga minyak serta ketidakpastian terkait inflasi dan pertumbuhan ekonomi memicu repricing cepat di pasar suku bunga dan valuta asing. Sejumlah analis bahkan memperingatkan bahwa bank sentral berpotensi menahan suku bunga lebih lama, atau bahkan bersikap lebih hawkish jika tekanan energi berlanjut.

Analis perbankan Wells Fargo Mike Mayo menilai, eksposur Goldman yang besar pada perdagangan makro membuatnya lebih rentan terhadap perubahan pasar yang tajam.

“Goldman memiliki eksposur besar di pasar suku bunga, dan perubahan signifikan pada Maret tidak selalu berpihak pada mereka,” ujarnya.

Menurutnya, kinerja lemah dalam satu kuartal masih bisa dimaklumi. Namun, jika tren tersebut berlanjut, pasar akan mulai mempertanyakan konsistensi strategi perdagangan Goldman Sachs.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×