CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Bobol Data Milik Polisi, Hacker Jual Data Satu Miliar Warga China Seharga 10 Bitcoin


Selasa, 05 Juli 2022 / 12:25 WIB
Bobol Data Milik Polisi, Hacker Jual Data Satu Miliar Warga China Seharga 10 Bitcoin
ILUSTRASI. A photo illustration shows a Yahoo logo seen through magnifying glass in front of a displayed cyber code on December 16, 2016. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration


Reporter: Lamgiat Siringoringo | Editor: Lamgiat Siringoringo

KONTAN.CO.ID -  SHANGHAI.  Seorang peretas mengklaim telah mencuri data satu miliar warga China dari database kepolisian Shanghai. Menurut Bloomberg, peretas berusaha menjual 23 terabyte data dengan harga 10 bitcoin, yang nilainya bisa lebih dari US$ 198.000.

Data tersebut meliputi nama, alamat, tempat lahir, KTP dan nomor telepon dari warga China. Masih belum jelas bagaimana peretas menyusup ke basis data polisi, meskipun ada dugaan bahwa peretas memperoleh akses melalui perusahaan komputasi awan Alibaba bernama Aliyun, yang dikatakan menjadi tuan rumah basis data tersebut. Alibaba sendiri menyebutkan masih sedang menyelidiki masalah ini.

Dalam sebuah postingan di Hot-spot Hacker Breach Forums mencantumkan informasi "pada satu miliar penduduk nasional Tiongkok dan beberapa miliar catatan kasus" untuk dijual dengan jumlah 10 Bitcoin.

Baca Juga: Warga Rusia yang Berhasil Menjadi Miliarder Baru Asal Kremlin

Poster, menggunakan nama ChinaDan, pada hari Minggu mengatakan harta karun informasi termasuk "nama, alamat, tempat lahir, nomor ID nasional, nomor ponsel, semua rincian kejahatan/kasus.

Meski ruang lingkup dari kebocoran ini belum diketahui, namun, para pakar keamanan siber menyebutnya sebagai pelanggaran keamanan siber terbesar dalam sejarah China.

Postingan tersebut tetap belum diverifikasi, tetapi telah menarik minat besar di China dan luar negeri: Pengguna di platform Weibo dan WeChat China menyatakan keprihatinan dan kesusahan besar tentang kebenaran klaim tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×