kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.923   14,00   0,08%
  • IDX 6.389   54,34   0,86%
  • KOMPAS100 842   6,62   0,79%
  • LQ45 635   2,71   0,43%
  • ISSI 220   2,36   1,08%
  • IDX30 357   1,03   0,29%
  • IDXHIDIV20 441   0,16   0,04%
  • IDX80 96   0,76   0,79%
  • IDXV30 119   0,42   0,36%
  • IDXQ30 114   0,10   0,09%

Bursa Asia Naik Ditopang Saham Teknologi Kamis (23/7), Lonjakan Minyak Bayangi Pasar


Kamis, 23 Juli 2026 / 08:56 WIB
Bursa Asia Naik Ditopang Saham Teknologi Kamis (23/7), Lonjakan Minyak Bayangi Pasar
ILUSTRASI. Bursa Asia (REUTERS/Kim Hong-Ji)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Kamis (23/7//2026), didorong optimisme terhadap prospek industri semikonduktor setelah sejumlah raksasa teknologi Amerika Serikat mengumumkan belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Namun, penguatan pasar dibayangi lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Emas Dunia Melemah usai Sentuh Level Tertinggi 2 Pekan, Kenaikan Minyak Tekan Prospek

Mengutip Reuters, indeks saham Asia bergerak positif setelah laporan keuangan Alphabet dan Tesla menunjukkan belum adanya perlambatan dalam belanja infrastruktur AI.

Alphabet bahkan menaikkan proyeksi belanja modal tahun ini menjadi US$ 195 miliar hingga US$ 205 miliar, yang diperkirakan akan mengalir ke industri semikonduktor, termasuk produsen chip di Asia.

Sentimen tersebut mendorong indeks KOSPI Korea Selatan melonjak lebih dari 3%, dipimpin oleh kenaikan saham SK Hynix dan Samsung Electronics. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang naik sekitar 1%.

Di kawasan yang lebih luas, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat sekitar 1% pada awal perdagangan. Secara mingguan, indeks tersebut berada di jalur kenaikan sekitar 3%, sekaligus mengakhiri tren pelemahan selama dua pekan berturut-turut.

Baca Juga: Bursa Australia Ditopang Saham Tambang, ASX 200 Sentuh Level Tertinggi Lima Pekan

Di sisi lain, konflik Timur Tengah yang semakin meluas terus menjadi perhatian investor.

Harga minyak Brent melonjak sekitar 2% menjadi US$ 96 per barel, level tertinggi dalam enam pekan, setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran dan kelompok Houthi di Yaman yang menargetkan kapal tanker minyak di Laut Merah.

Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor pendek ke level tertinggi dalam 17 pekan.

Pelaku pasar kini semakin memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga lebih cepat.

Thierry Wizman, Global FX & Rates Strategist Macquarie Group mengatakan, lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

"Kekhawatiran terhadap pertumbuhan global memang beralasan," ujarnya.

Baca Juga: India Desak China Benahi Akses Pasar, Defisit Dagang Jadi Sorotan

Menurut para analis, perang yang telah berlangsung hampir lima bulan telah menguras persediaan energi global dan mendorong inflasi.

Risiko penutupan Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah juga berpotensi mengganggu jalur pengiriman lebih dari seperempat pasokan minyak dan gas dunia.

Sementara itu, Gary Tan, Portfolio Manager Allspring Global Investments, menilai pertumbuhan layanan komputasi awan (cloud) yang semakin kuat memperkuat alasan perusahaan teknologi terus meningkatkan belanja AI.

"Pesan terpentingnya adalah AI bergerak cepat dari sekadar infrastruktur menjadi kekuatan yang mendisrupsi berbagai platform, sehingga siklus belanja AI oleh perusahaan hyperscaler masih berlanjut," katanya.

Meski demikian, pasar tetap akan mencermati apakah besarnya investasi AI tersebut benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang sepadan dengan valuasi saham teknologi yang saat ini sudah sangat tinggi.

Nick Twidale, Chief Market Strategist ATFX Global di Sydney mengatakan, pasar kemungkinan masih bergerak hati-hati.

"Laporan laba perusahaan memberikan sentimen positif, tetapi pada saat yang sama investor juga menghadapi konflik Timur Tengah yang terus meningkat," ujarnya.

Baca Juga: Houthi Serang Tanker Saudi, Ancaman Pasokan Minyak Global Kian Besar

Yen kembali tertekan

Di pasar valuta asing, yen Jepang kembali melemah ke kisaran 163,1 per dolar AS, setelah sempat menguat pada sesi sebelumnya menyusul laporan Bloomberg yang menyebut pejabat Bank of Japan (BOJ) terbuka terhadap percepatan kenaikan suku bunga.

Sebelumnya, yen sempat menyentuh 163,23 per dolar AS, level terlemah sejak Desember 1986, sehingga memicu spekulasi kemungkinan intervensi pemerintah Jepang.

Meski Menteri Keuangan Jepang berulang kali memberikan peringatan verbal terhadap pelemahan yen, langkah tersebut belum mampu membalikkan tren.

Analis OCBC menilai, risiko intervensi valas atau peningkatan investasi domestik oleh Government Pension Investment Fund (GPIF) hanya akan memberikan dukungan sementara terhadap yen.

Baca Juga: Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi Enam Pekan Kamis (23/7), Brent Sentuh US$ 96

Menurut mereka, perubahan yang lebih berkelanjutan baru akan terjadi apabila BOJ mempercepat laju kenaikan suku bunga.

Sementara itu, dolar AS tetap menguat didukung permintaan terhadap aset safe haven dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Pasar kini memperkirakan total kenaikan suku bunga sekitar 42 basis poin hingga akhir tahun, dengan peluang kenaikan pada September yang telah sepenuhnya diperhitungkan oleh pelaku pasar.




TERBARU

[X]
×