Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia mencatat penurunan harian terdalam dalam tiga pekan pada perdagangan Selasa (6/1/2026), seiring aksi jual pada saham perbankan besar menjelang rilis data inflasi yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter.
Melansir Reuters, Indeks S&P/ASX 200 turun 0,5% dan ditutup di 8.682,80, menjadi penurunan satu hari terbesar sejak 15 Desember. Volume transaksi tercatat masih di bawah rata-rata 30 hari sekitar 646 juta saham.
Baca Juga: Presiden Kolombia Siap Angkat Senjata Jika AS Lakukan Intervensi Militer
Sektor keuangan merosot 1,8%, menyentuh level terendah hampir tiga pekan dan mencatat penurunan harian terdalam sejak pertengahan November tahun lalu.
Tiga dari empat bank terbesar Australia terkoreksi antara 2% hingga 2,4%, sementara Commonwealth Bank of Australia jatuh 3%, menjadi kinerja terburuknya dalam hampir delapan pekan.
Tekanan pada saham bank muncul setelah reli kuat selama dua tahun terakhir akibat suku bunga tinggi. Valuasi yang dinilai sudah mahal serta peluang pertumbuhan di sektor lain mendorong investor melakukan diversifikasi portofolio.
Sebaliknya, saham pertambangan menguat 2,1% dan ditutup di rekor tertinggi, didukung kenaikan harga komoditas. BHP Group menyentuh level tertinggi hampir dua tahun, sementara Rio Tinto mencetak rekor baru.
Baca Juga: Sony Honda Mobility Pamerkan Prototipe Mobil Listrik Terbaru
Saham BlueScope Steel melonjak lebih dari 20% ke level tertinggi dalam lebih dari 17 tahun, setelah miliarder Kerry Stokes memimpin tawaran akuisisi senilai US$8,8 miliar bersama perusahaan baja asal Amerika Serikat, Steel Dynamics.
Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi konsumen Australia bulan November yang dijadwalkan keluar Rabu. Inflasi tahunan diperkirakan sedikit melandai dibanding bulan sebelumnya.
Namun, lonjakan inflasi terbaru membuat bank sentral menutup peluang pemangkasan suku bunga lanjutan, bahkan pasar kini mematok sekitar 33% peluang kenaikan suku bunga pada Februari.
“Jika pasar mulai memprice-in kenaikan suku bunga, kinerja ASX kemungkinan akan lebih terfragmentasi antar sektor, bukan reli yang merata,” ujar Marc Jocum, Senior Product and Investment Strategist Global X ETFs Australia.
Baca Juga: Jollibee Siapkan IPO Unit Usaha Internasional di AS pada Akhir 2027
Ia menambahkan, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membatasi kenaikan saham perbankan dan menekan laba jika pertumbuhan kredit melambat serta tekanan biaya berlanjut.
Sementara itu, di Selandia Baru, indeks S&P/NZX 50 naik 0,6% ke 13.663,58, menjadi penutupan tertinggi dalam hampir delapan pekan.












