Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia jatuh ke level terendah lebih dari 10 bulan pada Senin (23/3/2026), dipimpin oleh sektor perbankan dan pertambangan, karena ketidakpastian atas konflik Timur Tengah membuat investor enggan mengambil posisi besar.
Melansir Reuters, Indeks S&P/ASX 200 turun 1,7% menjadi 8.330,00 poin pada 01:19 GMT, menyentuh titik terendah sejak 15 Mei pada sesi awal. Indeks ini sempat menutup sesi Jumat lalu dengan penurunan 0,8%.
Baca Juga: Dolar AS Siap Menguat Senin (23/3), di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah
Sejak mencapai rekor tertinggi 9.202,90 poin pada 26 Februari, indeks telah kehilangan sekitar 9,8%, mendekati ambang 10% yang biasanya digunakan untuk mendefinisikan koreksi pasar.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah Iran pada Minggu menyatakan akan menyerang sistem energi dan air negara tetangga Teluk jika Presiden Donald Trump mengeksekusi ancaman terhadap jaringan listrik Iran dalam 48 jam.
Ancaman ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan instabilitas regional yang lebih luas, memengaruhi pasar domestik.
Sektor pertambangan turun hampir 4%, level terendah sejak 2 Desember, terdorong oleh harga aluminium dan tembaga yang melemah.
Baca Juga: Pasokan Minyak Iran Masuk Pasar, Harga Brent dan WTI Bergerak Tipis Senin (23/3)
Harga emas juga jatuh, menekan sub-indeks logam mulia hingga 8,1%, level terendah enam bulan.
Perusahaan tambang besar seperti Rio Tinto dan BHP Group masing-masing turun 2,6% dan 2,8%, level terendah sejak 12 Januari.
Sektor keuangan turun 1,3%, tertekan oleh penurunan “Big Four” bank antara 1,5%–2,3%. Saham teknologi lokal menurun hingga 3,3%, menandai level terendah sejak akhir Oktober 2023.
Berbeda dari tren umum, saham energi menguat hingga 0,9%, mencapai level tertinggi sejak awal Februari 2024, dipimpin oleh Santos dan Woodside Energy yang naik masing-masing 1,4% dan 1,5%.
Baca Juga: Sanksi Dilonggarkan, Kilang India dan Asia Mulai Lirik Minyak Iran
“Investor berhati-hati karena ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga komoditas,” kata Matthew Bragg, analis pasar di Bell Potter Securities.
“Sektor pertambangan dan keuangan jelas paling terdampak, sementara energi mendapat dorongan dari harga minyak dan gas yang tinggi.”
Di Selandia Baru, indeks S&P/NZX 50 turun 1,2% menjadi 12.839,30 poin, mencerminkan sentimen regional yang sama. Investor juga menunggu data inflasi Februari yang dijadwalkan minggu ini untuk menilai arah kebijakan suku bunga bank sentral.













