Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar keuangan global mengawali kuartal III 2026 dengan nada hati-hati. Investor memilih bersikap waspada menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Di saat yang sama, ketidakpastian negosiasi antara AS dan Iran kembali membayangi sentimen pasar. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap prospek pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan utama perdagangan minyak dunia.
Indeks saham global MSCI World Price Index turun 0,1% pada awal perdagangan Eropa, setelah membukukan kinerja kuartalan terbaik dalam sekitar enam tahun terakhir dengan kenaikan mencapai 13%. Reli tersebut sebelumnya ditopang oleh penguatan saham-saham teknologi dan produsen semikonduktor.
Iran pada Selasa (30/6/2026) menyatakan tidak akan bertemu dengan utusan utama AS yang telah tiba di Timur Tengah. Kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan yang cukup lebar terkait kerangka kesepakatan yang memungkinkan pembukaan penuh Selat Hormuz.
Baca Juga: PMI Manufaktur Jerman Juni Melesat, Pesanan Baru Bangkitkan Optimisme
Sementara itu, pasar obligasi berada di bawah tekanan setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak menjelang publikasi data ketenagakerjaan yang dijadwalkan pada Kamis (2/7/2026).
Pelaku pasar juga menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam konferensi Bank Sentral Eropa (ECB). Investor berharap mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS selanjutnya.
Selama ini, Warsh dikenal tidak mendukung pemberian panduan kebijakan (forward guidance) secara rinci sehingga diperkirakan tetap berhati-hati dalam menyampaikan pandangannya.
Kontrak berjangka menunjukkan peluang sekitar 33% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan ini. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada September diperkirakan berada di kisaran 67% hingga 88%.
Di Eropa, indeks STOXX 600 melemah 0,2% setelah sebelumnya menguat sekitar 10% sepanjang kuartal II, yang menjadi kinerja terbaik sejak akhir 2020.
Penurunan harga minyak pasca-gencatan senjata Iran memberikan dukungan terhadap saham-saham Eropa dalam beberapa pekan terakhir. Namun, investor masih meragukan apakah kondisi tersebut cukup untuk menggeser dominasi pasar saham AS dan Asia yang selama ini ditopang sektor teknologi.
Anggota komite investasi Carmignac, Kevin Thozet, mengatakan prospek ekonomi Eropa masih menghadapi tantangan, namun terdapat sejumlah faktor yang mulai memberikan angin segar.
"Data produk domestik bruto (PDB) kuartal II kemungkinan tidak akan terlalu baik. Namun, prospek pembukaan Selat Hormuz dan harga minyak yang lebih rendah jelas menjadi faktor positif utama bagi Eropa," ujarnya.
Baca Juga: Timnas Iran Sebut Meksiko Rumah Kedua, Singgung Ketidakadilan di Piala Dunia
Ia menambahkan, saham-saham Eropa juga banyak dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan transaksi investasi bertema kecerdasan buatan (AI).
"Saham Eropa juga telah menjadi sumber pendanaan untuk perdagangan bertema AI, sehingga setiap pelemahan relatif justru diperkirakan menjadi sentimen positif bagi strategi tersebut," katanya.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang naik 0,6% setelah melonjak 37% sepanjang kuartal sebelumnya. Permintaan teknologi yang kuat mendorong optimisme produsen besar ke level tertinggi dalam delapan tahun, sementara aktivitas manufaktur mencatat kuartal terbaik sejak 2014.
Sebaliknya, indeks utama Korea Selatan terkoreksi 2% setelah melonjak 68% pada kuartal II berkat tingginya permintaan cip berbasis AI. Ledakan industri semikonduktor turut mendorong ekspor Korea Selatan pada Juni mencapai rekor US$ 100 miliar dengan laju pertumbuhan tercepat dalam hampir 50 tahun.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun sekitar 0,4% hingga 0,5%.
Musim laporan keuangan menjadi fokus berikutnya
Pelaku pasar menilai wajar jika terjadi jeda penguatan setelah Wall Street membukukan kinerja kuartalan terbaik sejak 2020. Indeks Philadelphia Semiconductor bahkan melonjak hingga 88% sepanjang kuartal lalu.
Analis Pepperstone, Chris Weston, mengatakan sejarah menunjukkan bulan Juli umumnya menjadi periode yang positif bagi pasar saham.
"Catatan historis jelas masih berpihak kepada investor yang optimistis. Kontrak Nasdaq hanya mengalami satu kali penurunan pada bulan Juli sejak 2008," ujarnya.
Memasuki musim laporan keuangan yang dimulai pertengahan Juli, investor berharap perusahaan-perusahaan teknologi kembali mencatatkan laba yang kuat guna menopang valuasi saham yang saat ini sudah cukup tinggi.
Baca Juga: Kasus Dugaan Penipuan Chip AI di Singapura Meluas, 4 Tersangka Hadapi Dakwaan Baru
Goldman Sachs memperkirakan laba per saham (earnings per share/EPS) perusahaan-perusahaan dalam indeks acuan akan tumbuh sekitar 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sekitar 60% dari kenaikan tersebut diperkirakan berasal dari emiten yang bergerak di bidang infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS masih menjadi faktor risiko bagi pasar saham. Yield Treasury tenor 10 tahun terakhir berada di level 4,46% atau naik 4,3 basis poin, sehingga meningkatkan potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Kenaikan yield tersebut turut mendorong penguatan dolar AS terhadap yen Jepang hingga menyentuh level 162,84 yen per dolar AS, tertinggi dalam empat dekade.
Pergerakan tersebut kembali memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Namun, otoritas Tokyo dinilai masih enggan mengambil langkah agresif setelah sebelumnya menghabiskan hampir 12 triliun yen atau sekitar US$ 74 miliar sepanjang April hingga Mei tanpa memberikan dampak yang bertahan lama.
Di sisi lain, euro melemah 0,2% menjadi US$ 1,1398 menjelang rilis data inflasi kawasan euro yang diperkirakan kembali melandai. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa semakin mendekati akhir siklus kenaikan suku bunga.
Di pasar komoditas, harga minyak Brent naik tipis 0,1% menjadi US$ 73,02 per barel, namun masih jauh di bawah puncaknya pada Mei. Sementara itu, harga emas turun 0,9% menjadi US$ 3.970 per ons setelah mencatatkan kinerja kuartalan yang kurang menggembirakan.
- Goldman Sachs
- Harga Emas
- Korea Selatan
- Laporan Keuangan
- ECB
- yen Jepang
- pasar keuangan global
- Nikkei
- Selat Hormuz
- Dolar AS
- harga minyak
- Nasdaq
- semikonduktor
- suku bunga The Fed
- pasar obligasi
- Indeks Saham
- Data Ketenagakerjaan AS
- Saham Teknologi
- AI
- Ekonomi Eropa
- Inflasi Eropa
- Kevin Warsh
- yield obligasi AS
- Negosiasi AS Iran
- Intervensi Valuta Asing














