Cetak Rekor Tertinggi di 2021, IPO di Asia Diperkirakan Tak Lagi Ramai di Tahun Depan

Minggu, 19 Desember 2021 | 09:33 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Cetak Rekor Tertinggi di 2021, IPO di Asia Diperkirakan Tak Lagi Ramai di Tahun Depan

ILUSTRASI. Bursa saham Asia cetak rekor nilai IPO di 2021


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun 2021 menjadi tahun yang paling ramai dengan aksi pencatatan umum saham perdana. Namun, sejumlah pasar memperkirakan, hal tersebut akan sulit terulang di tahun 2022, mengingat prospek kenaikan suku bunga dan pengetatan cengkeraman China pada perusahaan-perusahaan teknologi besar jadi penghadang.

Memang, penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) di kawasan telah mencapai US$ 190 miliar sepanjang tahun 2021. Ini menjadi rekor tertinggi, dengan naik 31% dari total nilai IPO sepanjang tahun 2020.

Namun, momentum IPO telah melemah dalam beberapa bulan terakhir karena Beijing meningkatkan serangan regulasi terhadap perusahaan swasta, menunda kesepakatan besar dan menyuntikkan ketidakpastian ke tahun depan.

Mengutip Bloomberg (19/12), para bankir memperkirakan, pasar IPO Asia tidak terlalu hiruk pikuk dan lebih seimbang pada 2022.

Lanskap daftar juga mungkin terlihat lebih beragam, dengan Korea Selatan dan India maju dan industri dari energi bersih hingga layanan keuangan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh perusahaan teknologi China yang dulu dominan.

Perusahaan di India, Korea Selatan, dan Indonesia, semuanya telah meningkatkan jumlah rekor melalui penjualan saham pertama kali di tahun ini.

Baca Juga: Bersiap IPO di Kuartal I 2022, GoTo Tunjuk Dua Penjamin Emisi

Selain itu, masih ada yang tersisa yakni seperti IPO LG Energy Solution senilai US$ 10,8 miliar di Korea Selatan. Dari India ada IPO Mumbai Life Insurance Corp. yang mengincar valuasi setinggi US$ 131 miliar.

“Beberapa unicorn teknologi terbesar di Asia Tenggara juga diperkirakan akan menjual sahamnya tahun depan. Sekarang adalah waktu yang tepat karena perhatian investor beralih dari China, setidaknya dalam jangka pendek." kata Selina Cheung, Co-Head of Equity Capital Market, Asia di UBS Group AG.

Pengawasan ketat Beijing terhadap perusahaan teknologi, karena masalah keamanan data hingga celah yang lama digunakan oleh perusahaan untuk mendaftar di luar negeri, juga diperkirakan akan terus memperlambat laju penggalangan dana dari sektor ini.

Ditambah kinerja pasar sekunder yang lesu, telah mendorong Hong Kong, tujuan populer bagi perusahaan teknologi China, keluar dari tiga tempat daftar teratas dunia. Beberapa perusahaan, dari produsen makanan ringan Weilong Delicious Global Holdings Ltd. hingga pemasok Apple Inc. Biel Crystal Manufactory Ltd., telah menunda penawaran saham di kota tersebut, sebuah perkembangan yang membuat tiga bulan terakhir tahun ini menjadi kuartal keempat paling lemah sejak 2018 untuk IPO Asia.

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru