Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA/BEIJING. Badan pengelola cadangan pangan milik negara China, Sinograin, dilaporkan telah membeli sekitar 10 kargo kedelai asal Amerika Serikat (AS) dalam sepekan terakhir.
Langkah ini menandai berlanjutnya pembelian komoditas pertanian dari AS setelah tercapainya gencatan senjata dagang antara Beijing dan Washington pada akhir Oktober lalu.
Berdasarkan keterangan tiga pedagang yang mengetahui transaksi tersebut, total volume kedelai yang dibeli Sinograin mencapai sekitar 600.000 metrik ton. Kargo-kargo tersebut dijadwalkan untuk pengiriman pada periode Maret hingga Mei 2026.
Dengan pembelian terbaru ini, total impor kedelai AS oleh China kini mendekati 10 juta metrik ton. Angka tersebut setara dengan lebih dari 80% dari komitmen pembelian sebesar 12 juta metrik ton yang sebelumnya disampaikan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dan ditargetkan terealisasi hingga akhir Februari.
Baca Juga: Saham China Cetak Rekor Tertinggi 10 Tahun, Logam dan Keuangan Jadi Penggerak
“Masih ada pembelian kargo kedelai AS oleh Sinograin, dan total pembelian kini sangat dekat dengan 10 juta ton,” ujar salah satu pedagang yang memiliki pengetahuan langsung mengenai kesepakatan tersebut.
“Kami memperkirakan China masih akan membeli beberapa juta ton lagi untuk memenuhi target yang telah disepakati,” tambahnya.
Topang Harga Kedelai Chicago
Masifnya pembelian kedelai AS oleh China telah memberikan sentimen positif bagi pasar global. Dalam beberapa pekan terakhir, aksi beli ini menopang harga kedelai di bursa Chicago (Chicago Board of Trade/CBOT), sekaligus membantu pasar menutup tahun 2025 dengan kinerja yang positif.
Kembalinya impor kedelai AS oleh China, seiring meredanya ketegangan hubungan dagang Beijing–Washington, telah menghapus sebagian besar kerugian yang terjadi selama perang dagang sebelumnya.
Pada perdagangan Selasa (6/1), harga kedelai Chicago tercatat menguat tipis 0,1% ke level US$ 10,62 per bushel pada pukul 11.40 GMT.
Baca Juga: China Batasi Ekspor Peralatan Militer ke Jepang Usai Pernyataan soal Taiwan
Di Tengah Surplus Pasokan Domestik
Menariknya, peningkatan pembelian kedelai AS oleh China terjadi di tengah kondisi pasokan domestik yang melimpah. China saat ini menghadapi surplus kedelai akibat masuknya kedelai Amerika Selatan dalam jumlah besar, disertai dengan permintaan domestik yang relatif lemah.
Pada Desember lalu, Sinograin bahkan menggelar tiga kali lelang publik kedelai guna mengosongkan ruang penyimpanan dan mengakomodasi masuknya kargo impor dari AS. Namun, hasil lelang tersebut tidak sepenuhnya optimal.
Rata-rata harga dan tingkat penyerapan (clearance rate) dilaporkan terus menurun dalam setiap putaran lelang. Pada lelang terakhir, hanya sekitar sepertiga dari total volume kedelai yang berhasil terjual, sebagaimana pernah dilaporkan Reuters sebelumnya.
Para pelaku pasar sebelumnya memperkirakan Sinograin akan melepas sekitar 4 juta metrik ton kedelai melalui rangkaian lelang tersebut. Namun realisasi penjualan yang lebih rendah mencerminkan masih lemahnya permintaan di pasar domestik China.












