Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - China mendesak semua pihak dalam konflik Timur Tengah, terutama Amerika Serikat dan Israel, untuk segera menghentikan aksi militer. Beijing memperingatkan bahwa eskalasi konflik bisa menciptakan “lingkaran setan” yang berbahaya.
Peringatan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi global dan menekan permintaan ekspor China.
Melansir Reuters, utusan khusus China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, mengatakan bahwa pihak yang memulai konflik harus bertanggung jawab untuk mengakhirinya.
“Siapa yang mengikat lonceng, dia pula yang harus melepaskannya,” ujarnya setelah melakukan kunjungan diplomatik ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
China: Perang Bisa Picu Kekacauan Regional
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer hanya akan memperburuk situasi.
Menurutnya, jika konflik terus meluas, seluruh kawasan Timur Tengah berisiko terjerumus ke dalam kekacauan.
“Perang ini seharusnya tidak pernah dimulai,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 11% di Tengah Sinyal Damai AS-Iran, Konflik Masih Memanas
China juga mengingatkan dunia pada dampak panjang perang sebelumnya, merujuk pada Perang Irak yang genap 23 tahun pekan lalu.
Perang tersebut menumbangkan rezim Saddam Hussein, namun meninggalkan dampak besar. Yakni menewaskan lebih dari 100.000 orang, menguras biaya hingga triliunan dolar bagi AS, memicu kekacauan berkepanjangan di kawasan, dan membuka jalan bagi munculnya kelompok ekstremis seperti ISIS.
China menilai konflik saat ini berpotensi menimbulkan dampak serupa, termasuk penderitaan besar bagi rakyat Iran dan instabilitas regional.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Jalur ini sangat krusial karena dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Serangan Iran telah membuat jalur tersebut praktis tertutup, memicu krisis minyak terburuk sejak 1970-an.
China tidak merinci kekhawatirannya, namun analis menilai konflik berkepanjangan bisa menekan ekspor negara tersebut.
Baca Juga: Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Klaim Trump Picu Kebingungan Pasar
Negara berkembang, yang menjadi pasar utama ekspor China, sangat rentan terhadap kenaikan harga energi, tekanan inflasi, perlambatan ekonomi.
Ekonom Goldman Sachs, Hui Shan, memperkirakan pelemahan ekonomi di negara-negara tersebut akan menekan ekspor China dalam beberapa kuartal ke depan.
China Relatif Lebih Tahan, Tapi Tetap Berisiko
Dibanding negara lain, China dinilai lebih siap menghadapi lonjakan harga energi karena:
- Sekitar 60% energinya masih berbasis batu bara
- Memiliki cadangan minyak yang cukup
- Ketergantungan pada Selat Hormuz relatif kecil (sekitar 5%)
Meski begitu, kenaikan harga minyak dan gas tetap berpotensi mendorong inflasi dan mengubah tren deflasi harga produsen.
Goldman Sachs bahkan telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China kuartal II dan menaikkan outlook inflasi untuk 2026.
Tonton: Konflik Timur Tengah Mengancam Krisis Pangan Dunia
Saat ditanya apakah China menekan Iran untuk menjamin keamanan jalur pelayaran, Lin Jian menegaskan bahwa Beijing terus berkomunikasi dengan semua pihak.
China, katanya, berkomitmen untuk meredakan ketegangan dan mendorong stabilitas kawasan.













