Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Hubungan China dan Jepang kembali menghadapi tekanan setelah Beijing menahan dua warga negara Jepang atas dugaan penyelundupan barang yang dilarang untuk diperdagangkan.
Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa salah satu kasus penahanan diduga berkaitan dengan upaya ekspor produk yang mengandung unsur rare earth atau tanah jarang, komoditas strategis yang saat ini pengawasannya diperketat oleh China.
Juru bicara utama pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengatakan otoritas China memberi tahu Tokyo bahwa seorang warga Jepang ditahan di Kota Dalian pada 18 Mei karena diduga melanggar aturan terkait penyelundupan barang yang dilarang dalam perdagangan.
Seorang warga Jepang lainnya juga ditahan pada 25 Mei dengan dugaan pelanggaran yang sama.
Baca Juga: Liburan Imlek China Berubah Arah: Jepang Dilarang, Seoul Dipilih!
"Kami akan terus mengambil langkah yang tepat untuk melindungi warga negara Jepang, sambil menjaga komunikasi dengan individu yang ditahan dan pihak-pihak terkait," ujar Kihara dalam konferensi pers, Rabu (24/6/2026).
Kihara tidak menjelaskan jenis barang yang menjadi objek kasus tersebut. Namun, kantor berita Kyodo dan harian Asahi melaporkan bahwa salah satu penangkapan berkaitan dengan dugaan upaya mengekspor produk yang mengandung rare earth yang pengirimannya dibatasi oleh China.
Kementerian Luar Negeri China membenarkan adanya penahanan tersebut. Juru bicara kementerian, Guo Jiakun, mengatakan kedua warga Jepang ditahan karena diduga melanggar hukum yang berlaku di China.
Menurut Guo, pemerintah China telah menyampaikan informasi tersebut kepada Jepang.
Ia juga menegaskan bahwa Jepang perlu mengingatkan warga negara maupun perusahaan asal Jepang yang beroperasi di China untuk mematuhi seluruh hukum dan regulasi setempat.
Baca Juga: China Tahan 6 Anggota Gereja Bawah Tanah dalam Pengetatan Terbaru
Kasus ini berpotensi semakin memperkeruh hubungan dua ekonomi terbesar di Asia yang telah memburuk sejak tahun lalu. Ketegangan meningkat setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai Taiwan memicu perselisihan diplomatik dengan Beijing.
Rare earth menjadi salah satu isu sensitif dalam hubungan kedua negara. China merupakan pemasok terbesar dunia untuk mineral strategis tersebut yang digunakan dalam berbagai produk, mulai dari kendaraan listrik hingga kebutuhan pertahanan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing memperketat pengawasan sektor rare earth dan menjadikannya salah satu instrumen penting dalam kebijakan strategisnya.
Tahun lalu, badan intelijen China bahkan menyatakan bahwa pihak asing berupaya mencuri rare earth dan berjanji menindak tegas praktik penyelundupan.
Sejak ketegangan dengan Jepang memanas pada November tahun lalu, China juga membatasi pasokan sejumlah mineral penting ke Jepang serta memperketat ekspor barang-barang yang memiliki potensi penggunaan sipil dan militer, termasuk rare earth.
Baca Juga: Gempa Magnitude 5,2 Guncang Guangxi China, Ribuan Warga Mengungsi
Selain itu, Beijing mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Jepang dan membatalkan sejumlah kegiatan perdagangan serta acara budaya antara kedua negara.
Penahanan warga Jepang di China sendiri bukan kali pertama terjadi. Kasus serupa kerap muncul sejak Beijing memberlakukan undang-undang anti-spionase yang lebih luas pada 2014.
Salah satu kasus yang menyita perhatian adalah vonis penjara selama tiga setengah tahun terhadap seorang karyawan perusahaan farmasi Jepang, Astellas Pharma, pada tahun lalu.














