Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pemerintah China pada Senin (26/1/2026) memperingatkan warganya agar tidak bepergian ke Jepang selama libur Tahun Baru Imlek, periode libur tahunan terpanjang di China.
Peringatan ini muncul di tengah memanasnya hubungan Beijing–Tokyo, yang dipicu komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan pada awal November lalu.
Reuters melaporkan, Kementerian Luar Negeri China menyebut adanya lonjakan kejahatan yang menargetkan warga China serta risiko bencana gempa bumi. Dalam pernyataan resminya, Beijing menyatakan warga negaranya “menghadapi ancaman keamanan serius di Jepang”.
China sebelumnya juga pernah mengeluarkan peringatan serupa setelah pernyataan Takaichi yang menyebut bahwa serangan China ke Taiwan berpotensi memicu respons militer dari Jepang.
Komentar tersebut memicu kemarahan Beijing. China kemudian merespons dengan pembatasan ekspor, pembatalan penerbangan, serta pemberitaan keras di media pemerintah. Kementerian Pertahanan China bahkan memperingatkan Jepang akan menghadapi kekalahan militer yang menghancurkan jika ikut campur secara militer dalam isu Taiwan.
Baca Juga: Gelombang Panas Terjang Australia, Melbourne Hadapi Hari Terpanas dalam 17 Tahun
Maskapai China perpanjang kebijakan pembatalan
Maskapai besar China seperti Air China, China Eastern, dan China Southern Airlines pada Senin memperpanjang kebijakan perubahan dan pembatalan tiket gratis untuk penerbangan tujuan Jepang hingga 24 Oktober.
Kebijakan ini pertama kali diumumkan pada November setelah pernyataan Takaichi, lalu diperpanjang kembali bulan lalu hingga Maret.
Jumlah wisatawan China ke Jepang tercatat anjlok 45% pada Desember. Meski demikian, secara keseluruhan jumlah wisatawan ke Jepang justru mencapai rekor tertinggi, menurut Menteri Pariwisata Jepang pekan lalu.
Pernyataan Takaichi dan respons China
Meski belum mencabut pernyataannya pada November, Takaichi berupaya meredam ketegangan dengan kembali menegaskan posisi Jepang yang mendukung kebijakan “Satu China”. Ia juga menyebut bahwa cara China menafsirkan ucapannya tidak sesuai dengan fakta.
Dalam konferensi pers pada 19 Januari saat mengumumkan pemilu dadakan, Takaichi menyatakan bahwa China telah melakukan latihan militer di sekitar Taiwan dan semakin sering menggunakan tekanan ekonomi melalui penguasaan bahan baku penting dalam rantai pasok global.
“Lingkungan keamanan internasional semakin memburuk,” ujarnya.
Baca Juga: Penguatan Yen Akibat Risiko Intervensi Menahan Pergerakan Dolar
China pilih dekati Korea Selatan
Di tengah peringatan bagi warganya untuk menghindari Jepang, Beijing justru menunjukkan sikap positif terhadap lonjakan pariwisata dengan Korea Selatan, seiring upaya memperkuat hubungan dengan Seoul setelah memburuknya relasi dengan Tokyo.
Didorong kebijakan bebas visa, jumlah wisatawan Korea Selatan ke China dan wisatawan China ke Korea Selatan terus meningkat.
Tonton: Tiba di Indonesia dari 3 Negara, Prabowo Bawa Oleh-oleh Investasi Rp 90 Triliun
“Ledakan pariwisata dua arah ini menjadi cerminan meningkatnya pertukaran ekonomi dan kerja sama antara China dan Korea Selatan,” tulis tabloid milik pemerintah China, Global Times, dalam editorial yang diterbitkan Minggu.













