Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang bertahan kuat pada Selasa (27/1/2026) setelah mencatat dua sesi penguatan tajam berturut-turut.
Pasar masih waspada terhadap kemungkinan intervensi mata uang terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Jepang, yang membuat dolar AS tetap tertekan.
Penguatan yen turut membebani dolar, yang bergerak di dekat level terendah empat bulan.
Tekanan terhadap dolar juga datang dari faktor domestik AS, mulai dari ancaman penutupan pemerintahan hingga kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai tidak konsisten.
Baca Juga: Trump akan Naikkan Tarif Impor Korea Selatan Jadi 25% Usai Negosiasi Dagang Mandek
Perhatian pelaku pasar valas dalam beberapa waktu terakhir tertuju pada yen, yang menguat hingga sekitar 3% dalam dua sesi perdagangan terakhir.
Reli tersebut dipicu kabar adanya “rate checks” atau pengecekan nilai tukar oleh otoritas AS dan Jepang, yang kerap dipandang sebagai sinyal awal intervensi.
Seiring sentimen tersebut, yen bertahan di kisaran 153–154 per dolar AS. Pada perdagangan terakhir, yen berada di level 154,24 per dolar, jauh dari posisi terlemahnya pada Jumat lalu di 159,23 per dolar.
“Itu sangat efektif, dan memang tepat… langkah The Fed cukup tidak terduga,” ujar Chief Economist Asia-Pasifik Natixis, Alicia Garcia Herrero.
Sumber Reuters menyebutkan Federal Reserve Bank of New York telah melakukan pengecekan nilai tukar dolar/yen dengan pelaku pasar pada Jumat lalu.
Sementara itu, pejabat senior Jepang pada Senin menyatakan tengah menjalin koordinasi erat dengan AS terkait pergerakan nilai tukar.
Baca Juga: Saham Otomotif Korea Selatan Tertekan Usai Trump Ancam Naikkan Tarif
Ancaman intervensi tersebut membuat investor enggan kembali menekan yen ke level yang lebih lemah, meskipun kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang masih membayangi.
Sejumlah analis menilai intervensi terkoordinasi memiliki ambang syarat yang tinggi dan belum tentu segera terjadi.
“Ini belum berakhir. Pasar memang lebih berhati-hati, tetapi jika tidak ada tindakan lanjutan, akan ada upaya baru untuk menguji ketegasan otoritas Jepang,” kata analis valas OCBC, Moh Siong Sim.
“Pada titik itulah, intervensi nyata bisa saja dilakukan untuk mengirim pesan yang lebih kuat.”
Data pasar uang Bank of Japan menunjukkan lonjakan nilai yen terhadap dolar pada Jumat lalu kemungkinan besar bukan disebabkan oleh intervensi langsung pemerintah Jepang.
Baca Juga: Anta Resmi Kuasai 29% Puma, Transaksi US$1,8 Miliar Bikin Geger Industri Sportswear
Dolar Tertekan di Pasar Global
Di pasar global, tekanan terhadap dolar membuat sebagian besar mata uang utama bertengger di dekat level tertinggi empat bulan.
Euro stabil di US$1,1878 setelah sempat menyentuh puncak US$1,19075 pada Senin. Pound sterling juga bertahan di US$1,3678, sedikit di bawah level tertingginya sehari sebelumnya.
Dolar Australia dan dolar Selandia Baru turut mempertahankan penguatan, masing-masing diperdagangkan di US$0,6914 dan US$0,5970.
Sepanjang awal 2026, dolar kembali berada di bawah tekanan akibat kombinasi berbagai faktor yang memicu perubahan pandangan investor terhadap stabilitas greenback.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Terancam Boikot? Eks Presiden FIFA Serukan Jauhi AS!
Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar telah melemah lebih dari 1% sejak awal tahun dan terakhir berada di level 97,05, mendekati posisi terendah empat bulan di 96,808.
Fokus pasar kini juga tertuju pada pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve yang dimulai Selasa ini.
Agenda tersebut dibayangi oleh penyelidikan pidana pemerintahan Trump terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, upaya pemecatan Gubernur The Fed Lisa Cook, serta rencana penunjukan penerus Powell.
“Pasar kemungkinan lebih fokus pada isu independensi The Fed ketimbang arah suku bunga,” ujar analis mata uang Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong.
Menurutnya, jika Powell memilih mundur dari jabatannya sebagai gubernur setelah masa tugas ketua berakhir pada Mei mendatang, hal itu bisa memperkuat persepsi bahwa The Fed tunduk pada tekanan politik, yang pada akhirnya menjadi risiko negatif bagi dolar AS.













