Sumber: Associate Press,Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - China tengah menguji seberapa kuat dukungan Presiden AS Donald Trump terhadap sekutu utamanya di Asia: Jepang. Yakni dengan meningkatkan tensi perang dagang.
Langkah ini diambil hanya beberapa bulan setelah Trump dengan percaya diri menyatakan bahwa isu mineral tanah jarang telah ia “selesaikan untuk dunia.”
Mengutip Bloomberg, pekan ini, Beijing menaikkan tekanan terhadap Tokyo dengan melarang seluruh pengiriman barang dual-use yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer. Kebijakan ini diperkirakan bisa berdampak pada sekitar 40% ekspor China ke Jepang.
Selain itu, China juga mengancam akan memperketat kontrol ekspor mineral tanah jarang yang sangat penting bagi industri otomotif Jepang. Tak lama berselang, China membuka penyelidikan anti-dumping terhadap bahan penting industri semikonduktor, kembali menyasar sektor strategis Jepang.
Jika dirangkai, langkah-langkah ini menunjukkan bahwa kampanye tekanan Presiden Xi Jinping terhadap Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, terkait pernyataannya soal Taiwan, baru saja dimulai. Pembatasan tanah jarang juga menjadi tantangan langsung bagi Trump, yang sebelumnya mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan Beijing agar pasokan logam penting bagi industri pertahanan dan teknologi global tetap mengalir.
Baca Juga: Ketegangan Memuncak: AS Sita Kapal Tanker Rusia di Atlantik
Untuk saat ini, Takaichi tampak masih berhitung. Meski pemerintah Jepang telah melayangkan protes, Tokyo sejauh ini menahan diri dari aksi balasan yang berisiko memicu dampak ekonomi di dalam negeri, mengingat produsen mobil Jepang sangat bergantung pada bahan baku dari China, terutama untuk kendaraan listrik.
Menurut mantan diplomat senior AS di Asia, Kurt Tong, pendekatan Jepang adalah menahan diri dan menunggu. Jepang tidak buru-buru mencari kompromi, tapi juga enggan melompat ke langkah retaliasi, dengan harapan China pada akhirnya akan meredakan sikapnya sendiri.
AP melaporkan, ketegangan China–Jepang meningkat sejak Perdana Menteri baru Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan akhir tahun lalu bahwa militer Jepang bisa saja turun tangan jika China mengambil tindakan terhadap Taiwan, yang oleh Beijing dianggap sebagai bagian dari wilayahnya.
Tonton: Mentan Sebut RI Bakal Ekspor Beras di 2026: Pertama dalam Sejarah
Situasi kembali memanas pada Selasa lalu ketika anggota parlemen Jepang Hei Seki, yang sebelumnya dijatuhi sanksi oleh China, berkunjung ke Taiwan dan secara terbuka menyebut Taiwan sebagai negara merdeka. Politikus yang juga dikenal sebagai Yo Kitano itu dilarang masuk ke China dan menyatakan bahwa kunjungannya bertujuan menunjukkan bahwa Taiwan dan China adalah dua negara yang berbeda.
Kesimpulan
Langkah China menekan Jepang melalui pembatasan perdagangan dan penyelidikan industri menunjukkan bahwa Beijing tidak hanya merespons isu Taiwan, tetapi juga sengaja menguji soliditas hubungan Jepang–Amerika Serikat di bawah Donald Trump. Dengan memanfaatkan ketergantungan Jepang pada bahan baku China, terutama tanah jarang dan komponen industri strategis, Xi Jinping berusaha menekan Tokyo tanpa konfrontasi langsung, sekaligus mempertanyakan klaim Trump soal stabilitas rantai pasok global. Sikap menahan diri Jepang mencerminkan dilema klasik negara sekutu AS: menjaga prinsip geopolitik tanpa mengorbankan kepentingan ekonomi domestik.













