Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Citigroup (Citi) memperkirakan Amerika Serikat (AS) dan Israel akan mengambil langkah terbatas terhadap Iran dalam waktu dekat guna menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan terkait program nuklirnya, tanpa memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Dalam catatan riset yang dirilis Kamis (29/1/2026), Citi menyebut langkah-langkah terbatas tersebut kemungkinan mencakup aksi militer skala kecil oleh AS serta penyitaan kapal tanker minyak.
Baca Juga: AS Perketat Pemantauan Mata Uang, Tak Temukan Praktik Manipulasi
Kondisi ini diperkirakan akan menjaga premi risiko di pasar minyak tetap tinggi, terutama karena kekhawatiran Iran dapat menutup Selat Hormuz, jalur transit utama perdagangan minyak global.
Harga minyak dunia sempat melonjak sekitar 3% dan menyentuh level tertinggi dalam lima bulan pada Kamis.
Seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa pasokan global dapat terganggu jika AS melancarkan serangan terhadap Iran, salah satu produsen minyak terbesar dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Sebelumnya, sejumlah sumber menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, termasuk serangan terbatas yang menargetkan aparat keamanan dan elite kepemimpinan guna mendorong gelombang protes domestik.
Baca Juga: Dolar AS Berpotensi Catat Penurunan Mingguan Kedua pada Jumat (30/1/2026)
Namun, pejabat Israel dan negara-negara Arab menilai kekuatan udara semata tidak akan cukup untuk menggulingkan rezim ulama yang berkuasa di Teheran.
Citi menilai skenario dasar berupa aksi terbatas memiliki probabilitas sebesar 70%.
Skenario ini mencerminkan sensitivitas AS terhadap kenaikan harga energi karena pertimbangan politik domestik, preferensi Presiden Trump untuk menghindari perang terbuka, serta tekanan internal di Iran yang dinilai berpotensi membuka jalan menuju kesepakatan.
“Citi tidak memperkirakan respons besar dari Iran karena Teheran juga tidak menginginkan perang, mengingat kondisi ekonomi yang melemah dan meningkatnya keresahan sosial,” tulis bank tersebut.
Meski demikian, Citi melihat peluang sebesar 30% terjadinya konflik yang meningkat namun tetap terbatas, disertai ketidakstabilan politik domestik di Iran yang dapat menyebabkan gangguan sporadis terhadap produksi dan ekspor minyak.
Selain itu, terdapat risiko 10% terjadinya kehilangan pasokan regional dalam skala besar akibat gejolak sipil yang melibatkan AS dan Israel.
Baca Juga: Trump Berencana Umumkan Calon Ketua The Fed pada Jumat (30/1/2026)
Dalam skenario dasarnya, Citi memperkirakan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran serta terjadinya deeskalasi pada 2026.
Kondisi ini diproyeksikan akan menurunkan premi risiko geopolitik terkait Iran, yang saat ini diperkirakan berada di kisaran US$7–10 per barel, dengan harga minyak Brent mendekati US$70 per barel.
Pada perdagangan Kamis, kontrak berjangka minyak Brent ditutup di level US$70,71 per barel.













