Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - HSBC menurunkan peringkat saham India menjadi "underweight" dari sebelumnya "netral". Ini merupakan penurunan kedua dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Pasalnya, HSBC memperkirakan lonjakan harga energi yang dipicu perang di Timur Tengah akan mengancam keberlanjutan pemulihan laba perusahaan di negara tersebut.
Catatan saja, harga minyak mentah Brent telah naik 42% sejak perang dimulai pada akhir Februari dan saat ini diperdagangkan di atas US$ 100 per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan bagi India, yang merupakan importir minyak terbesar ketiga di dunia.
"India kini terlihat kurang menarik dibandingkan negara-negara Asia Timur Laut dalam kondisi makroekonomi saat ini," tulis HSBC dalam catatan pada Kamis seperti yang dikutip Reuters.
HSBC mencatat, indeks acuan Nifty 50 dan Sensex masing-masing telah turun 6,7% dan 7,9% sepanjang tahun ini, termasuk yang terburuk secara global.
HSBC memperkirakan pasar minyak dan gas akan tetap ketat sepanjang sebagian besar kuartal Juni dan September. Dalam kondisi tersebut, HSBC memperkirakan konsensus proyeksi laba tahun 2026, yang saat ini berada pada pertumbuhan 16% secara tahunan (year-on-year), akan direvisi turun. Kenaikan harga minyak mentah sebesar 20% dapat memangkas 1,5 poin persentase dari pertumbuhan laba.
Baca Juga: Inflasi Inti Singapura Capai 1,7% di Maret 2026
Perusahaan sekuritas tersebut menyebut, meskipun valuasi saham domestik telah terkoreksi dari level puncaknya, valuasi tersebut dapat kembali terlihat mahal ketika penurunan proyeksi laba mulai tercermin di pasar.
HSBC juga menyoroti kekhawatiran investor asing, termasuk risiko depresiasi rupee, apabila harga minyak tetap tinggi. Kekhawatiran lain muncul terkait dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap sektor jasa perangkat lunak India.
Investor portofolio asing telah melepas saham India senilai US$ 18,5 miliar sepanjang 2026, setelah menjual saham senilai US$ 18,9 miliar pada tahun lalu.
Meski arus dana domestik, khususnya melalui SIP (Systematic Investment Plan), masih mendukung pasar, HSBC menyatakan aktivitas IPO yang lebih kuat setelah kuartal pertama yang biasanya lemah secara musiman bisa membutuhkan peningkatan kembali permintaan dari investor asing.
Tonton: Perundingan AS-Iran Ditunda, Islamabad Lumpuh Warga Mulai Lelah
HSBC menambahkan bahwa peluang selektif masih ada di sektor bank swasta, logam dasar, dan kesehatan, namun secara keseluruhan daya tarik relatif saham India telah melemah.













