kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   -30.000   -1,10%
  • USD/IDR 17.873   84,00   0,47%
  • IDX 6.158   -63,21   -1,02%
  • KOMPAS100 815   -10,02   -1,22%
  • LQ45 615   -10,11   -1,62%
  • ISSI 210   -1,92   -0,90%
  • IDX30 348   -6,50   -1,83%
  • IDXHIDIV20 427   -9,18   -2,10%
  • IDX80 93   -1,28   -1,37%
  • IDXV30 115   -0,83   -0,72%
  • IDXQ30 112   -2,68   -2,34%

Dolar AS Bertahan di Puncak Dua Bulan Kamis (18/6), Yen Jepang Makin Tertekan


Kamis, 18 Juni 2026 / 08:44 WIB
Dolar AS Bertahan di Puncak Dua Bulan Kamis (18/6), Yen Jepang Makin Tertekan
ILUSTRASI. Dolar AS (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di level tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada perdagangan Kamis (18/6/2026), seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.

Kondisi tersebut turut menekan mata uang Jepang, yen, mendekati level yang berpotensi memicu intervensi pemerintah.

Baca Juga: Noam Shazeer Tinggalkan Google Gemini, Bergabung ke OpenAI Jelang IPO

The Fed pada pertemuan terbarunya mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%.

Namun, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh mengawali masa kepemimpinannya dengan menegaskan fokus pada pengendalian inflasi serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan bank sentral.

Proyeksi terbaru menunjukkan hampir separuh pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini di tengah kekhawatiran inflasi yang masih tinggi.

Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 83% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026.

Data penjualan ritel AS yang kuat juga semakin memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Baca Juga: 5 Rekor Baru Lionel Messi Setelah Hattrick Kontra Aljazair di Piala Dunia

Sentimen pasar juga dipengaruhi ketidakpastian di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan terhadap Iran dapat kembali dilakukan apabila Teheran dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Pernyataan tersebut membantu menopang harga minyak dan memperkuat posisi dolar AS.

Di pasar valuta asing, euro terakhir diperdagangkan menguat tipis ke level US$ 1,1511 setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam dua bulan. Poundsterling juga naik ke US$ 1,3318.

Sementara itu, mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing menguat sekitar 0,2% menjadi US$ 0,7025 dan US$ 0,5780.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk euro dan yen, relatif stabil di level 100,31.

Baca Juga: Bursa Australia Menguat Tipis Kamis (18/6), Setelah AS-Iran Sepakati Perdamaian

Pada sesi sebelumnya, indeks dolar melonjak 0,85% dan mencapai level tertinggi sejak 31 Maret 2026, sekaligus mencatat kenaikan harian terbesar sejak awal Maret.

Strategis Pasar Senior National Australia Bank (NAB) Gavin Friend menilai, penguatan dolar masih berpotensi berlanjut.

“Dolar AS sedang mencatat kenaikan yang cukup besar dan pasar kemungkinan membutuhkan waktu untuk mencerna perubahan ini. Ada peluang dolar memasuki fase penguatan yang baru,” ujarnya.

Di sisi lain, yen Jepang terus melemah hingga menyentuh level 160,76 per dolar AS, level terlemah sejak 2024. Kurs tersebut mendekati area 160 yen per dolar yang selama ini dipandang pasar sebagai batas psikologis yang berpotensi mendorong intervensi otoritas Jepang.

Pelaku pasar juga menantikan hasil rapat kebijakan moneter Bank of England (BoE) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 3,75% sambil mengevaluasi dampak gencatan senjata sementara antara AS dan Iran terhadap prospek inflasi global.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×