kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.358   4,00   0,02%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Dolar AS Menuju Pelemahan Mingguan Terbesar vs Yen sejak Februari


Jumat, 01 Mei 2026 / 22:35 WIB
Dolar AS Menuju Pelemahan Mingguan Terbesar vs Yen sejak Februari
ILUSTRASI. Forex - Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar AS bergerak melemah terhadap yen Jepang dan berpotensi mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Februari, setelah adanya dugaan intervensi dari otoritas Jepang untuk menopang mata uangnya.

Melansir Reuters pada Jumat (1/5/2026), dolar tercatat melemah untuk hari kedua berturut-turut terhadap yen.

Pasar tetap waspada setelah pejabat mata uang Jepang, Atsushi Mimura menyatakan bahwa posisi spekulatif di pasar masih tinggi, mencerminkan kekhawatiran otoritas terhadap pergerakan yen yang terlalu cepat.

Baca Juga: Iran Kirim Proposal Negosiasi ke AS Lewat Pakistan, Peluang Akhiri Konflik Terbuka

Dolar sempat turun dari kisaran 157,1 menjadi 155,49 yen sebelum kembali menguat tipis dan terakhir berada di level 156,62 yen.

Dua sumber yang mengetahui kebijakan tersebut menyebutkan bahwa pemerintah Jepang melakukan intervensi dengan membeli yen pada Kamis, setelah mata uang tersebut melemah hingga 160,7 per dolar, level terendah sejak Juli 2024.

“Daya tahan efek intervensi masih belum pasti. Secara historis, dampaknya cenderung memudar tanpa diiringi perubahan kebijakan, kenaikan suku bunga, atau koordinasi,” ujar Uto Shinohara, senior investment strategist di Mesirow Currency Management.

Baca Juga: Exxon Lampaui Estimasi Laba Kuartal I 2026, Produksi Tertekan Konflik Iran

Berdasarkan data Bank of Japan yang dirilis Jumat, otoritas diperkirakan menggelontorkan hingga 5,48 triliun yen atau sekitar US$35 miliar untuk mendukung yen. Nilai ini sedikit di bawah intervensi pada Juli 2024 yang mencapai US$36,8 miliar.

Yen sendiri berada di bawah tekanan akibat perbedaan suku bunga yang lebar antara Jepang dan Amerika Serikat.

Pelemahan yen juga diperparah oleh kenaikan harga minyak yang dipicu konflik Iran, yang justru menopang penguatan dolar AS.

Secara mingguan, dolar tercatat turun sekitar 1,7% terhadap yen, menjadi penurunan terbesar sejak awal Februari.

Dari sisi kebijakan moneter, European Central Bank dan Bank of England memutuskan mempertahankan suku bunga, mengikuti langkah sebelumnya dari Federal Reserve dan Bank of Japan.

Baca Juga: Estée Lauder Naikkan Target Laba, Siap PHK hingga 3.000 Karyawan Lagi

Namun, ECB dan BOJ mengisyaratkan potensi kenaikan suku bunga mulai Juni guna meredam tekanan inflasi akibat kenaikan biaya energi impor.

Sementara itu, euro menguat 0,32% ke US$1,177 dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut.

Pound sterling naik 0,25% ke US$1,1364 dan menuju penguatan selama lima pekan beruntun.

Dolar AS juga melemah 0,27% terhadap franc Swiss dan bersiap mencatat penurunan mingguan kedua.

Baca Juga: Harga Aluminium Rebound Jumat (1/5), Ketegangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan

Meski demikian, Shinohara menilai ruang penguatan yen masih terbatas. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan pada Juni sekitar dua pertiga, sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed semakin memudar.

“Perbedaan kebijakan ini, ditambah sikap The Fed yang lebih hawkish, membatasi potensi penguatan yen secara berkelanjutan,” jelasnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×