kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.705.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 16.981   -12,00   -0,07%
  • IDX 9.163   28,78   0,32%
  • KOMPAS100 1.265   1,20   0,10%
  • LQ45 894   0,53   0,06%
  • ISSI 336   1,44   0,43%
  • IDX30 457   2,18   0,48%
  • IDXHIDIV20 540   2,36   0,44%
  • IDX80 141   0,05   0,04%
  • IDXV30 150   0,88   0,59%
  • IDXQ30 146   0,66   0,45%

Dolar AS Terancam! BRICS Siapkan Skema Pembayaran Baru


Selasa, 20 Januari 2026 / 07:41 WIB
Dolar AS Terancam! BRICS Siapkan Skema Pembayaran Baru
ILUSTRASI. Bank sentral India usulkan mata uang digital BRICS saling terhubung. Langkah ini berpotensi besar mengurangi dominasi dolar AS. ( REUTERS/Tita Barros)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Salah satu gagasan yang tengah dikaji untuk mengelola potensi ketidakseimbangan perdagangan adalah penggunaan perjanjian swap valuta asing bilateral antarbank sentral.

Upaya sebelumnya oleh Rusia dan India untuk meningkatkan perdagangan menggunakan mata uang lokal sempat menemui kendala. Rusia menumpuk saldo besar dalam rupee India yang sulit dimanfaatkan, sehingga bank sentral India akhirnya mengizinkan dana tersebut diinvestasikan ke obligasi lokal.

Skema penyelesaian transaksi mingguan atau bulanan melalui mekanisme swap juga sedang diusulkan, menurut sumber kedua.

Jalan masih panjang

BRICS didirikan pada 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan China, sebelum kemudian diperluas dengan bergabungnya Afrika Selatan. Seiring waktu, blok ini terus berkembang dengan masuknya anggota baru seperti Uni Emirat Arab, Iran, dan Indonesia.

BRICS kembali menjadi sorotan seiring kembalinya retorika perang dagang dan ancaman tarif dari Trump, termasuk peringatan kepada negara-negara yang mendekat ke BRICS. Di saat yang sama, India juga semakin mendekat ke Rusia dan China di tengah meningkatnya friksi dagang dengan AS.

Upaya sebelumnya untuk menjadikan BRICS sebagai penyeimbang ekonomi global kerap tersandung hambatan. Salah satunya adalah gagasan pembentukan mata uang bersama BRICS yang sempat diusulkan Brasil, namun akhirnya dibatalkan.

Di tingkat global, minat terhadap CBDC memang sedikit meredup akibat meningkatnya penggunaan stablecoin. Meski demikian, India tetap memosisikan e-rupee sebagai alternatif yang lebih aman dan terregulasi.

Tonton: Jerman Ancam Boikot Piala Dunia 2026 jika AS Caplok Greenland

“CBDC tidak menimbulkan banyak risiko yang biasanya melekat pada stablecoin,” ujar Deputi Gubernur RBI T Rabi Sankar bulan lalu.

Ia menambahkan, selain berpotensi memfasilitasi pembayaran ilegal dan menghindari pengawasan, stablecoin juga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas moneter, kebijakan fiskal, intermediasi perbankan, dan ketahanan sistem keuangan.

India khawatir penggunaan stablecoin secara luas dapat memecah sistem pembayaran nasional dan melemahkan ekosistem pembayaran digital domestik, seperti dilaporkan Reuters pada September lalu.

Selanjutnya: Ketua The Fed Jerome Powell akan Hadiri Sidang soal Upaya Trump Pecat Lisa Cook

Menarik Dibaca: Penikmat Pedas, Sambal Bakar Indonesia Kini Hadir di Senen Jakarta




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×